Bang, Pulang Bang (Kepada perantau)

Oleh         : Sei Handayani 

Sei Handayani

Ini mamak, berulang kali mengulang cerita. Sejak kau di dalam rahim, menendang tiap sisi perut, bergelut dengan perjanjian kelahiran. Malam itu kau terlahir di bawah bulan, pohon trembesi di halaman berguguran daunnya, tangismu nyaring mencari susu, mamak relakan dua puting lecet diisapanmu, bertahuntahun.
Bang, pulang bang. Fotomu dipajang di kamar mamak, tepat di samping pembaringan. Tiap kali ia tidur, disimpannya wajahmu di dalam mata. Kakikaki yang pernah mungil dulu, berlarian dan terjatuh di seluruh lantai rumah, juga di halaman, di pasar, di alunalun. Kakikaki yang kerap dielus diciumi tiap kali dalam gendongan meski bahunya ngilu. Kakikaki yang melintang di atas perutnya di malammalam ketika ia terlelap bersamamu. Kakikaki yang dikejarnya sebab risau. Kakikaki yang melangkah keluar dari pintu rumahnya, entah lupa entah enggan entah apa, belum juga pulang setelah bertahun. Ditunggunya setiap hari, doa menjelma nafas, kabarmu hanya suara di telepon.
Bang, pulang bang. Hari raya sudah dekat, orangorang rindu tanah lahirnya, ramai mereka mengatur perjalanan. Di rumah, mamak membakar adonan kue kering isi nenas kesukaanmu. Kalengkaleng penuh kue, hatinya masih kosong. Senyumnya kerap muncul di setiap ketika. Mungkin wajahmu yang senang menghabiskan kuekue itu terbayang di benaknya, anak lelaki satusatunya, wajah sama persis kekasihnya yang meninggal tahun lalu. Waktu itu, kau pun tak pulang bang, lautan terlalu luas mencipta jarak.
Bang, pulang bang. Sekali waktu pernah kulihat, mamak menangis di dalam kamar. Dipeluknya fotomu seolah tubuh. Akupun menangis. Apa kau tak paham perihal rindu? Itu belati yang menusuk hati tak matimati. Tak ada yang bisa membunuh rindu selain perjumpaan. Ditasbihkannya namamu, lalu namamu, namamu.
Bang, pulanglah. Ini mamak, rahimnya luka.
Medan, 23 Juni 2016

Lihat Juga Sei Handayani : Perihal Rindu yang Kukirimkan Kemarin Itu 


EmoticonEmoticon