Malam ini di Kedai Kopi Aceh Manado

Malam ini di kedai kopi Aceh. Suasana malam ini begitu gaduh dalam kemerduan nada-nada, mungkin karena malam minggu yang menjadi anggun bersama dengan suasana sehabis hujan gerimis yang numpang membasahi debu-debu kotoran angin di kota kedua ku ini. Suara sendok dan piring tak mau mengalah mengiri suara-suara kaum muda, setengah baya dan tua. Para penikmat banyak mengantri menanti kursi kosong yang tak berpenghuni lagi, mata mereka pun liar sembari sedikit melempar senyuman sapa kepada sebagian kekosongan pandangan yang tak pasti. Perkumpulan senyum pun mulai berunding menyatakan ikhlas atau tidaknya sapaan-sapaan mesra tersembunyi.


Gaduh yang indah malam ini tertuju pada sekelompok pengamen yang menyuarakan aspirasi dan imajinasi dalam memeluk suasana malam ini, menghibur dalam kegaduhan tapi tetap indah dalam hentakan pelayan dan pelanggan yang tak mendengar dengan kesadaran sebab kaki dan tangan mereka sedang menari-nari tanpa nada.

Baca Juga : Cerita Kopi Hitam Ku

Masih tetap terfokus pada petikan gitar enam tali dan kayu dengan sedikit besi pada ujung setelan, Gitar yang tak tahu akan kebisingan namun tetap indah bersuara dengan ikhlas. 

Tak lama kemudian si penagih dari kelompok pun mulai berjalan dengan kantong menyerupai topi, ya topi ternyata setelah mendekat dikelopak mata yang penuh dengan setengah pembiasan cahaya lampu neon.

Topi pun mulai terisi dan lagu pun semakin menarik, kelompok pengamen menambahkan bonus-bonus lagu mereka yang pelan-pelan tanpa sadar sebagian kepala pembising bergoyang mengiringi goyangan sendok, piring dan gelas di kursi kosong tanpa penghuni. Seketika ku teringat sebungkus rokok dan segelas kopi hitam Aceh yang mulai mengilang diukuran gelas, sekilas teringat perjuangan mendampingi realita yang tak pandang bulu, sekilas teringat keringat yang tak pernah henti negalir dalam benang-benang berwarna.

Masih dalam kegaduhan cinta bersama semua pengunjung kedai kopi Aceh malam ini, masih tetap terfokus dengan pengamen yang menjadi fokus mata dan telingan malam ini, masih menjadi gaduh akibat malam minggu gemulai yang menyembunyikan waktu di saku malamnya.

Suara-suara merdu pengamen masih berbisik nada-nada kritis dalam lagu-lagu terakhir mereka sebelum pamitan ke kedai lain di gaduh malam ini atau mungkin sejenak istrihatkan pita suara mereka sambil berbicara aksi-aksi lain di malam lain. Entahlah, mereka tetap menyanyikan lagu terakhir mereka dan itu hanya lamunan ku saja.

Mencari sekarung beras dengan usaha kepiawaian gitar dan suara mereka hanya sebagian bentuk nyata dari kita semua dalam mendampingi realitas yang buta. Kita semua pun sama-sama akan hadir dengan bentuk-bentuk nyata. Hanya pertarungan nasib dan takdir yang tetap hidup dalam jasad ini.

Tetaplah bernyanyi saudara-saudara, iringilah realitas yang bising dan buta agar dia sadar kalau nasib dan takdir akan takluk dalam usaha, kerja dan doa kalian.

Ato Basahona


EmoticonEmoticon