Etika Politik dan Wilayah Abu-Abu

Oleh        : Tri Saleh
Facebook  : Tri Saleh


Tri Saleh

Banyak nuansa gelap menjadi terang dalam dunia perpolitikan. Akhir-akhir ini, jaman mulai berkembang pesat tentunya semakin maju serta modern. Namun, tak dipungkiri hal yang banyak terjadi pada pencaturan politik kian hari kian memanas tanpa menggunakan gaun etika politik yang berpijar pada pondasi dasar kepemahaman intelektual dan spiritual.


Sebelum lebih jauh memahami dasar dari etika politik yang dimaksud pada era modern kekinian, maka hal yang wajar juga kiranya manusia memahami dalam-dalam bahwa,etika politik bukan seperti kambing yang diikat pada pepohonan dan memakan rumput hijau tanpa tujuan menyejaterahkan kepentingan umum dan hanya untuk kepentingan pribadi.

Tidak apalah. Namun, singgungan hewan itu menjadi hantaman keras bagi kita manusia yang katanya penting untuk mengerti akan manusiawi. Disini penting kita camkan para intelektual yang keluar dari berbagai dasar-dasar idealisme pemahaman pada waktu belajar bergerak menghadang kezholiman kepemimpinan yang berbagai nikmat dosis keracunan yang mematikan serta menindas berbagai masyarakat.


Ok. Nah, etika politik tak perlu kita bahas berbelit serta bertele-tele. Setidaknya dasar saja harus kita pahami bahwa etika politik sebagai mana diketahui secara umum dimana, filsafat moral tentang dimensi politis kehidupan manusia, atau cabang filsafat yang membahasa prinsip-prinsip moralitas politik. Jadi, Etika politik sebagai ilmu dan cabang filsafat lahir di Yunani pada saat struktur-struktur politik tradisional mulai ambruk. 

Sebab, Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Ethes” yang berarti kesediaan jiwa akan kesusilaan, atau dapat diartikan kumpulan peraturan tentang kesusilaan. Dengan kata lain, etika politik merupakan prinsip moral tentang baik-buruk dalam tindakan atau perilaku dalam berpolitik. Etika politik juga dapat diartikan sebagai tata susila (kesusilaan), tata sopan santun (kesopanan) dalam pergaulan politik. 

Dalam praktiknya, etika politik menuntut agar segala klaim atas hak untuk menata masyarakat dipertanggungjawabkan pada prinsip-prinsip moral dasar. Untuk itu, etika politik berusaha membantu masyarakat untuk mengejawantahkan ideologi negara yang luhur ke dalam realitas politik.

Sementara,menurut Simone De Beauvoir, dalam buku teori-teori kritis pada etika politik menjelaskan eksistensialisme. Dimana eksistensialisme adalah diatas segalanya dalam pandangan etika politik dalam sebuah kebebasan.pada intinya, filosofi ini merupakan konsep tentang keberadaan manusia (Eksistensi) sebagaimana secara mendasar telah memandang etika politik melewati eksistensi dan esensi. Tentunya kontras dengan makhluk lain. Kalau pun begitu. Seperti (hewan,batu, dan lain-lain) artinya esensi dan eksistensinya adalah pas untuk etika politik.


Waww. Yah. Mengerti atau tidak  itulah Simone De Beauvoir secara ringkas walau belum jelas. Sehingga dari pada itu, ada yang namanya wilayah abu-abu pada etika politik. Wilayah abu-abu yang dimaksud sempat dikolaborasikan pada buku Soepono Soegirman, yang merangkum sebuah tulisan pada cover “Intelijen  provesi unik orang-orang aneh.” Artinya, pengertian yang dipahami oleh masyarakat tentang kata, “Abu-abu” adalah warna yang putih. Dia juga bisa dikatakan biru, tetapi bukan biru. Terkadang ada juga yang mengatakan hitam, tetapi juga bukan hitam. Yang jelas, di dalam warna abu-abu, terkadang warna putih, biru, dan hitam. 

Dengan demikian, pengertian “wilayah” abu-abu, dapat dimaknai bukan wilayah sini, tetapi juga bukan wilayah sana, bukan juga wilayah lainya. Tetapi juga sebaliknya wilayah abu-abu dapat pula dimaknai wilayah sini, wilayah sana ataupun wilayah lainnyaa lagi. Pendek kata saja wilayah abu-abu  tidak jelas. Wilayah semacam ini rawan gangguan,  rawan konflik, dan rawan perhatian.

Menyimpul maksud dan makna pada “etika politik dan wilayah abu-abu,” kiranya itu maksud. dimana ketidak jelasan antara etika politik dan wilayah abu-abu jaman kekinian, masi seperti Pekerjaan Rumah (PR) bagi adik-adik kita yang berada di Sekolah Dasar (SD). Dan sekarang ini buta bagi maksud dari tulisan tersebut. Sebab, kemunafikan yang berlandaskan kecerdasan banyak mengerti akan hal yang dimaksud, namun biadap pada kesempurnaan intelektual idelisme professional yang membodohkan masyarakat dan eksistensi sendiri.



EmoticonEmoticon