Kota Jasa, Kota Parah


Tri Saleh

Kota ini kota parah untuk kita semua. Kenapa harus sebut "Parah," karena bukankah keindahan yang tercipta sebelum mencapai cita-cita, adalah mulia disampaikan ditelinga masyarakat. Namun, tentunya sudah menjadikan rangkayan bunga mawar dibingkis bersama visi-misi yang ternyata makin lama makin lenyap bagaikan debu rokok membakar tembakaunya sendiri.

Baca Juga Tri Saleh : Penulis Polos “Wan-wan” dan Menyinggung Tanda Baca
Camkan, kota jasa kota parah, mungkin buayan merdu yang menjilat bujukan ditelinga masyarakatmu, itu sungguh canggih disaat engkau memintah untuk di pilih. Tetapi kenapa setelah engkau terpilih, kota jasa kota parah, dengar; engkau bagaikan beras yang tersisa 'Konga,' enak dimakan berasnya bagi manusia. Tetapi beras yang tersisa 'Konga' hanya hewan yang lebih pantas untuk memakan.
Sungguh, kota jasa kota parah, lihat apa yang engkau buat? disana tercatat dan belum terlihat. Hanya ada pesan kosong, pesan yang bagaikan hanpone mengirim SMS ke nomor yang tidak tahu arah dan tujuanya. Sebab, yang dicatat hebat dan yang dirangkai hebat, itu hanya menjelmah konsep imajinasi tanpa realisasi. Ya, biarlah. Itu kewenanganmu. tetapi setidaknya tanggung jawabmu perlihat bukan ditelinga tapi di mata. Karena kota jasa kota parah, telinga hanya bisa mendengar lantunan merdu pada cita-citamu dihadapan masyarakatmu. Namun mata lah yang menilai realisasi fakta yang engkau buat.

Baca Juga Tri Saleh : Hujan dan Surat Kepada Tenaga Pengumpul Data (TPD)
Kota jasa kota parah kota untuk kita semua. Dimana tempat perkuliyaan universitas yang berstatus negeri, hanya ada tempat belajar swasta. Itu pun bekal syarat sangat prasyarat. Begitu lamakah anak-didik harus menunggu? Tanpa sesuatu yang tepat, tanpa sesuatu yang pasti. Kota jasa kota parah, pertumbuhan ekonomi apa dan pertumbuhan infrastruktur apa?? Tidak. Karena hanya selalu berlapis-lapis tebalnya aspal yang dijalanan. Entah itu tujuanya kemana, entah itu menguntungkan siapa.
Kota jasa kota parah, cukuplah bagimu dan cita-citamu, senanglah bagimu dan kerajaanmu, bahwa bangsamu megah dan mewah belapis-lapiskan pembangunan kandang yang ditempati investor. Kota jasa kota parah, tidurmu sungguh diselimuti investor karena megah dan mewah, masyarakatmu hanya itu saja melihat. Kalau serupa itu, maka kota jasa kota parah; kamu sungguh tidak memikirkan kepentingan daerahmu harus temurun pada kulit kulturmu.
Kota jasa kota parah, jika bangsa luar yang akan memperluas lahan garapan mereka di tanahmu, maka sungguh jadilah kamu dan keturunan kulturmu, penonton selama-lamanya pada kekuasaan investormu. Sebab, investormu telah menguasai daerahmu dan dirimu serta masyarakatmu. Kota jasa kota parah, bisa tidak sedikit kita berfikir, bahwa entah kedepan rakyatmu dan daerahmu akan menjadi apa dan bagaimana jikalau investormu menguasai semua itu. Ya. Memang sungguh megah terlihat jika kandang investor akan masuk dan dibangun di semua ling daerahmu. Tetapi sungguh tak terbayangkan juga jika tanahmu suda dirampok, dan masyarakatmu suda disuap dengan lapangan kerja yang berlimpah tanpa mengenal jasa tanah leluhurmu.

Baca Juga Tri Saleh : Sejarah dan Mempelajari Sistem KUHP Indonesia

Kota jasa kota parah, sadarkah dan pahamkah kita dengan politik kapitalis?? Kota jasa kota parah, sadarlah, belajarlah, dan ajaklah ketika engkau paham dan sadar akan kasih sayang atas abdi bakti tanah leluhur moyangmu dengan kehidupan khas kulit kedaerahan itu. Karena yang bisa menciptakan untuk itu, ialah kamu bagian pemimpin dari sebagian perwakilan masyarakatmu. Kota jasa kota parah kota kita untuk semua, cukuplah sampai disitu. Biar kekuasaan dan kepemimpinanmu makin hari makin jahu ditelan bisa kekuasaan politik ala yahudi.
Demikian inspirasi malam menjelang fajar.
Tri Saleh:

Kotamobagu, 03 April 2016



EmoticonEmoticon