Artworker

Karya: Saroya Rizkiya Anggi

Genre: Drama romantis (semoga) 

Saroya Rizkiya Anggi

Awalnya, aku menganggapnya sebagai pengganggu usaha menyepiku yang susah payah pindah dari kota ke kaki gunung demi mencari inspirasi untuk proyek besar sebagai seniman patung. Teman sesama seniman dari luar negeri meminta untuk berpartisipasi di pameran yang akan diadakannya dua bulan lagi dan aku bahkan belum punya konsep yang matang di kepalaku. Sebagai laki-laki, proyek ini adalah pertaruhan harga diri. Sudah beberapa percobaan yang kubuat tapi semuanya sampah. Aku prustasi. Tepat ditengah kebingungan mengejar waktu itu, aku melihatnya berjingkat-jingkat ditengah semak belukar di depan rumah yang hanya, entah sudah berapa lama dia mencoba melepaskan diri dari sana, hingga akhirnya badannya roboh. Kaget, dengan cepat diriku berlari menolongnya. Dan saat itulah pertemuan pertamaku dengannya.
Rusti, begitu dia menyebut namanya. Kalau tidak mengaku bahwa dia janda, aku tak akan pernah tahu kenyataan itu. Wajahnya tak tampak seperti orang yang sudah menikah. Rambut ikal hitam sebahu, kulit coklat, tapi wajahnya bersih dan punya senyuman yang manis. Temperamen suaminya yang gampang meledak, membuat Surti tak tahan. Bahkan keguguran akibat kondisi psikologis yang kacau karena masalah itu membuatnya trauma mengandung lagi. Hingga saat bercerai, Surti tak pernah benar-benar merasakan menjadi seorang ibu. Dia memohon-mohon agar tidak mengatakan keberadaannya pada siapapun. Di tempat ini janda merupakan aib, bentuk kegagalan memalukan yang dipercaya akan memberikan kutukan berupa bencana alam dan paceklik pada desa sehingga tak ada satupun janda yang diizinkan untuk tinggal di sini. Rusti bersembunyi di tempat rahasia agar dia masih bisa diam-diam menjenguk orang tuanya ketika penduduk desa terlelap.
Sejak pertemuan itu, Surti sering datang. Pagi buta jam 3 membelah hutan kecil di sekeliling rumah sambil membawa obor. Dia tak takut, sudah biasa. Waktu yang tepat untuk pergi kemanapun yang disuka, karena tak ada seorangpun yang akan memergokinya. Kadang Surti membawa ketela pohon yang tumbuh liar disekitar hutan. Menemaniku ngopi, sementara tanganku menatah batu untuk proyek itu, dia mengajakku mengobrol menanyakan ini itu dan melihat karya-karya lamaku.
“Wuah…,” Surti menganga di depan benda yang diangkatnya tinggi-tinggi, “ini patung siapa? Mirip denganku,” kuingat katanya suatu hari ketika dia mengunjungiku. Aku menertawakan ekspresi terkejutnya yang tampak lugu, tapi aku setuju pendapat Surti bahwa patung ibuku itu mirip dengannya, walaupun ingatan tentang ibu sudah lama kabur. Patung itu kubuat ketika usiaku 20 tahun, tepat setelah bibi memberikan satu-satunya foto yang dimilikinya padaku. Walaupun tak pernah sekalipun mengatakan, bibi pasti tahu bahwa aku merindukan sosok perempuan itu.
Ibu kehilangan ayah dalam kecelakaan tepat saat usiaku 6 tahun, dan setelah itu, kehidupan keluargaku berubah seperti neraka. Ibu meninggalkanku pada bibi, pergi ke tempat yang tak kuketahui dan mengunjungiku seminggu sekali. Sebulan berlalu keadaan seperti itu, tiba-tiba ibu pulang dalam keadaan tak bernyawa. Aku tak tahu apa yang terjadi tapi jenazah ibuku penuh luka memar dan sayatan. Rasa ngeri saat melihatnya membuatku langsung mendekap erat boneka kesayanganku, benda pemberian ibu satu-satunya. Setiap kali ditanya tentang hari itu, aku berpura-pura tak mengingatnya sambil diam-diam mengabaikan bayangan yang masih jelas berkelebatan.
Sudah seminggu Surti tak berkunjung. Ketiadaan pengganggu itu meninggalkan perasaan aneh yang menyiksa. Aku kesepian. Khawatir diriku jika dia sudah diusir penduduk desa dan tak sempat pamit. Kulirik peti kayu yang berisi karya yang akan kukirimkan ke luar negeri. Kuselesaikan semalam, tadinya akan kuperilhatkan pada Surti sebelum berpindah tangan, tapi dia menghilang.
Tercenung aku melamunkan bemacam-macam hal, sampai tiba-tiba mataku menangkap sosok yang kukenal. “Surti!” teriakku, “i…ini siang hari kenapa kamu kesini?” kataku gugup sambil menghampiri Surti yang berdiri di halaman. Wajah Surti berubah. Begitu di hadapannya, dia mencengkram lenganku kuat. Wajahnya penuh keringat, dengan nafas tidak santai dan matanya yang memandang tak tentu arah aku tahu dia sedang ketakutan.
“Apa yang terjadi? Ayo kita ke dalam, kamu tidak boleh diluar terlalu lama, bagaimana kalau ada yang melihatmu?” setengah kutarik tangannya. Surti bertahan, dia menggeleng cepat.
“Danang, tolong aku…tolong aku…” itu yang kutangkap dari gerak bibir Surti yang lemah. Belum sempat aku mencerna kata-katanya, terdengar suara gaduh mendekat, menyibak semak di sekeliling rumah dengan belati yang mereka bawa. Warga desa.
Mereka mendekat dengan langkah cepat, wajah mereka yang merah padam, merengut, tanpa senyum, memunculkan urat-urat kecil di sekeliling dahi. Menakutkan. Sigap, laki-laki bertangan kekar berkulit hitam merampas Surti yang berlindung di belakangku.
“Apa yang kalian lakukan?!” teriakanku menggema. Tanpa berbicara, mereka menyeret Surti. Terlihat kesakitan, Surti mencoba melepaskan diri, menangis sambil sesekali menatap dengan tatapan pilu. Tak terima, aku menghalangi mereka sekuat tenaga. Mencobaku merebut Surti kembali, tapi kemudian terlempar oleh tendangan keras yang mengenai ulu hati. Aku muntah darah. Mereka lebih banyak. Lebih kuat. Pemimpin mereka memberikan aba-aba, lalu dua orang berbadan besar memegangiku, menghalangi menyelematkan Surti.
“Lepaskan dia! Kalian tidak boleh membawanya!” Jangan!”
Warga desa semakin banyak berdatangan. Kata-kata itu memberondong keluar dari mulutku terus menerus. Semakin banyak orang yang menahanku, memegangi seluruh tubuh. Aku kelesotan di tanah, berusaha lepas sampai lemas. Ditengah tenaga yang makin habis, aku melihat peristiwa memilukan bagaimana samar-sama Surti semakin diseret menjauh, sambil berkali-kali menengok, memohon pertolongan. Aku merasa tak berdaya, air mata mengalir. Semakin kencangku berteriak serak memanggil namanya. Perasaan sesak di dada menyebar seketika, mengingat bahwa manusia tak berguna ini belum sempat mengakui perasaan pada wanita yang gagal diselamatkannya. Aku terbatuk-batuk hebat mengeluarkan cairan merah dari mulut, badan remuk redam, kepalaku sakit. Penglihatanku semakin kabur hingga akhirnya tak jelas lagi. Gelap.
****
Dua orang laki-laki berseragam turun dari motor. Berjalan mendekati rumah kayu tanpa tetangga di kiri kanannya, memandang rumah sedehana itu dengan wajah takjub. Hampir satu jam mereka berkendara menembus hutan, kalau bukan karena arahan dari penduduk desa. Tak akan ketemu rumah tersembunyi ini.
Pemandangan yang indah dan udara yang bersih, memang membuat tempat ini amat cocok untuk orang yang ingin mengasingkan diri. Sejarah ketidakramahan zaman dulu dimana penduduk desa ini pernah memandang janda sebagai virus ebola hingga tak pernah menerimanya menetap di desa untungnya sudah berakhir sejak 24 tahun yang lalu. Sekarang praktek itu tak berlaku. Membuat semua orang bernafas lega.
Rumah ini dulu ditinggali oleh keluarga kecil, lalu tiba-tiba ditinggalkan pemiliknya begitu saja bertahun-tahun lamanya, tapi dua bulan lalu ada seorang laki-laki berusia tiga puluhan yang mengaku anak pemilik rumah itu tinggal dan menetap di sana. Semuanya tampak baik-baik saja hingga suatu hari pencari serangga menemukan laki-laki itu terkapar, meronta-ronta memanggil nama seseorang dalam kondisi setengah sadar.
Begitu masuk, mereka disuguhi pemandangan studio seni. Alat-alat pahat dan patung-patung berserakan dimana-mana. Mereka berkutat di rumah itu sekitar dua jam. Mengambil buku-buku diary dan dokumen yang dirasa memberikan informasi yang diperlukan.
“Kenapa boneka ini tergeletak di sini?” tanya laki-laki bertubuh kurus setelah tak sengaja kakinya menginjak boneka dari kain belacu penuh tambal yang tergeletak di halaman, tepat saat mereka akan meninggalkan rumah kayu itu. Ketika membalik badan boneka berambut keriting itu, mereka menemukan bordiran dari benang woll yang tampaknya membentuk sebuah kata. Begitu membacanya, dua petugas itu saling memandang.
Salah seorang dari mereka mulai mengeluarkan setumpuk kertas yang dibawa. Memeriksa lagi dokumen berisi data-data dari “tamu” bernama Danang Danarhadi yang kemarin di bawa ke tempat kerjanya. Di dalam dokumen itu tertulis beberapa daftar istilah seperti halusinasi, delusi, pikiran kacau, perubahan perilaku yang kotak disampingnya telah dibubuhi tanda centang. Menurut data yang sudah dikumpulkan, boneka itu merupakan hadiah pemberian seorang ibu pada anaknya. Walaupun tak dikatakan, jelas sekali terlihat kalau boneka itu bikinan tangan. Benda penting, petugas rumah sakit itu memutuskan untuk memasukkan boneka yang terukir nama “Surti” itu ke dalam tas, berkumpul bersama barang-barang yang mereka bawa dari dalam rumah, sambil mengingat-ingat penyakit tamu barunya yang didiagnosis menderita skizofrenia.

2 komentar

Maaf ya bru tahu kalau ada pesan, terimakasih udah di share :)

Nda apa",,, sama-sama & Salam Kenal ya :)


EmoticonEmoticon