Blues untuk Timurku

Oleh : Sei Handayani


Kita serupa gelang di tangan kiriku yang kupaksa masuk meski akhirnya terlihat cantik. Nyeri di jemari, adalah rindu, main-mainan hatiku sendiri sebab ingin membunuh jarak.

"Merindulah dalam do'a" ya, kau pernah berucap begitu, menidurkan lukaku sebab jatuh cinta pada hitam bola matamu. Namun aku lupa bertanya, ketika rindu menjelma do'a, apa kau akan memelukku tanpa berhitung ruang?

"Kecupku, jadikan kenangan" ya, kau juga pernah berucap itu. Waktu itu, tak sempat kukatakan apapun, debar jantung meredam suaraku. Dalam hati saja kuucapkan "aku akan mengingatmu, bukan mengenangmu".

Medan, 21 Januari 2016

(Baca Juga Karya Sei Handayani : Negeri di Timur)