Kumpulan Teori-Teori Lingkungan Hidup

1. Teori Antroposentrisme

Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak langung.

Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian. Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia.

Oleh karenanya alam pun hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.


2. Teori Ekosentrisme

Ekosentrisme Berkaitan dengan etika lingkungan yang lebih luas. Berbeda dengan biosentrisme yang hanya memusatkan pada etika pada biosentrisme, pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak. Karena secara ekologis, makhluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terkait satu sama lain. Oleh karenanya, kewajiban dan tanggung jawab moral tidak hanya dibatasi pada makhluk hidup. Kewajiban dan tanggung jawab moral yang sama juga berlaku terhadap semua realitas ekologis.

3. Teori Egosentris

Etika yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu (self). Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim bahwa yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika egosentris bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih didasarkan pada filsafat yang menitikberatkan pada individu atau kelompok privat yang berdiri sendiri secara terpisah seperti “atom sosial” (J. Sudriyanto, 1992:4). Inti dari pandangan egosentris ini, Sonny Keraf (1990:31) menjelaskan: Bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri

Dengan demikian, etika egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia sebagai pelaku rasional untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”. Hal ini didasarkan pada berbagai pandangan “mekanisme” terhadap asumsi yang berkaitan dengan teori sosial liberal.

4. Teori Biosentrisme

Teori Biosentrisme mengagungkan nilai kehidupan yang ada pada ciptaan, sehingga komunitas moral tidak lagi dapat dibatasi hanya pada ruang lingkup manusia. Mencakup alam sebagai ciptaan sebagai satu kesatuan komunitas hidup (biotic community).

Inti pemikiran biosentrisme adalah bahwa setiap ciptaan mempunyai nilai intrinsik dan keberadaannya memiliki relevansi moral. Setiap ciptaan (makhluk hidup) pantas mendapatkan keprihatinan dan tanggung jawab moral karena kehidupan merupakan inti pokok dari konsern moral. Prinsip moral yang berlaku adalah “mempertahankan serta memlihara kehidupan adalah baik secara moral, sedangkan merusak dan menghancurkan kehidupan adalah jahat secara moral” (Light, 2003: 109).

Biosentrisme memiliki tiga varian, yakni, the life centered theory (hidup sebagai pusat), yang dikemukakan oleh Albert Schweizer dan Paul Taylor, land ethic (etika bumi), dikemukakan oleh Aldo Leopold, dan equal treatment (perlakuan setara), dikemukakan oleh Peter Singer dan James Rachel.

5. Etika Homosentris

Etika homosentris mendasarkan diri pada kepentingan sebagian masyarakat. Etika ini mendasarkan diri pada berbagai model kepentingan sosial dan pendekatan antara pelaku lingkungan yang melindungi sebagian besar masyarakat manusia.

Etika homosentris sama dengan etika utilitarianisme, jadi, jika etika egosentris mendasarkan penilaian baik dan buruk suatu tindakan itu pada tujuan dan akibat tindakan itu bagi individu, maka etika utilitarianisme ini menilai baik buruknya suatu tindakan itu berdasarkan pada tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi sebanyak mungkin orang. Etika homosentris atau utilitarianisme ini sama dengan universalisme etis. Disebut universalisme karena menekankan akibat baik yang berguna bagi sebanyak mungkin orang dan etis karena ia menekankan akibat yang baik. Disebut utilitarianisme karena ia menilai baik atau buruk suatu tindakan berdasarkan kegunaan atau manfaat dari tindakan tersebut (Sonny Keraf, 1990:34).

Seperti halnya etika egosentris, etika homosentris konsisten dengan asumsi pengetahuan mekanik. Baik alam mau pun masyarakat digambarkan dalam pengertian organis mekanis. Dalam masyarakat modern, setiap bagian yang dihubungkan secara organis dengan bagian lain. Yang berpengaruh pada bagian ini akan berpengaruh pada bagian lainnya. Begitu pula sebaliknya, namun karena sifat uji yang utilitaris, etika utilitarianisme ini mengarah pada pengurasan berbagai sumber alam dengan dalih demi kepentingan dan kebaikan masyarakat (J. Sudriyanto, 1990:16).

6. Etika Ekosentris

Etika ekosentris mendasarkan diri pada kosmos. Menurut etika ekosentris ini, lingkungan secara keseluruhan dinilai pada dirinya sendiri. Etika ini menurut aliran  etis ekologi tingkat tinggi yakni deep ecology, adalah yang paling mungkin sebagai alternatif untuk memecahkan dilema etis ekologis. Menurut ekosentrisme, hal yang paling penting adalah tetap bertahannya semua yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat, seperti halnya manusia, semua benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya sendiri (J. Sudriyanto, 1992:243)

Menurut etika ini, bumi memperluas berbagai ikatan komunitas yang mencakup “tanah, air, tumbuhan dan binatang atau secara kolektif, bumi”. Bumi mengubah  perah “homo sapiens” dari makhluk komunitas bumi, menjadi bagian susunan warga dirinya. terdapat rasa hormat terhadap anggota yang lain dan juga terhadap komunitas alam itu sendiri (J. Sudriyanto, 1992:2-13). Etika ekosentris bersifat holistik, lebih bersifat mekanis atau metafisik. Terdapat lima asumsi dasar yang secara implisit ada dalam perspektif holistik ini, J. Sudriyanto (1992:20) menjelaskan:

Segala sesuati itu saling berhubungan. Keseluruhan merupakan bagian, sebaliknya perubahan yang terjadi adalah pada bagian yang akan mengubah bagian yang lain dan keseluruhan. Tidak ada bagian dalam ekosistem yang dapat diubah tanpa mengubah dinamika perputarannya. Jika terdapat banyak perubahan yang terjadi maka akan terjadi kehancuran ekosistem.

Keseluruhan lebih daripada penjumlahan banyak bagian. Hal ini tidak dapat disamakan dengan konsep individu yang mempunyai emosi bahwa keseluruhan sama dengan penjumlahan dari banyak bagian. Sistem ekologi mengalami proses sinergis, merupakan kombinasi bagian yang terpisah dan akan menghasilkan akibat yang lebih besar daripada penjumlahan efek-efek individual.

Makna tergantung pada konteksnya, sebagai lawan dari “independensi konteks” dari “mekanisme”. Setiap bagian mendapatkan artinya dalam konteks keseluruhan.Merupakan proses untuk mengetahui berbagai bagian. Alam manusia dan alam non manusia adalah satu. Dalam holistik tidak terdapat dualisme. Manusia dan alam merupakan bagian dari sistem kosmologi organik yang sama. 

Uraian di atas akan mengantarkan pada sebuah pendapat Arne Naess, seorang filsuf Norwegia bahwa kepedulian terhadap alam lingkungan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Kepedulian lingkungan yang “dangkal” (shallow ecology)
Kepedulian lingkungan yang “dalam” (deep ecology).

Kepedulian ekologis ini sering disebut altruisme platener holistik, yang beranggapan bahwa hal ini memiliki relevansi moral hakiki, bukan tipe-tipe pengadu (termasuk individu atau masyarakat), melainkan alam secara keseluruhan (J. Sudriyanto, 1992:22).

7. Teosentrisme

Teosentrisme merupakan teori etika lingkungan yang lebih memperhatikan lingkungan secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Pada teosentrism, konsep etika dibatasi oleh agama (teosentrism) dalam mengatur hubungan manusia dengan lingkungan. Untuk di daerah Bali, konsep seperti ini sudah ditekankan dalam suatu kearifan lokal yang dikenal dengan Tri Hita Karana (THK), dimana dibahas hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan) dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan).

8. Teori  Nikomakea

Teori  Nikomakea (bahasa Inggris: 'Nicomachean Ethics'), atau Ta Ethika, adalah karya Aristoteles tentang kebajikan dan karakter moral yang memainkan peranan penting dalam mendefinisikan etika Aristoteles. Kesepuluh buku yang menjadi etika ini didasarkan pada catatan-catatan dari kuliah-kuliahnya di Lyceum dan disunting atau dipersembahkan kepada anak lelaki Aristoteles, Nikomakus.

Teori  Nikomakea memusatkan perhatian pada pentingnya membiasakan berperilaku bajik dan mengembangkan watak yang bajik pula. Aristoteles menekankan pentingnya konteks dalam perilaku etis, dan kemampuan dari orang yang bajik untuk mengenali langkah terbaik yang perlu diambil. Aristoteles berpendapat bahwa eudaimonia adalah tujuan hidup, dan bahwa ucaha mencapai eudaimonia, bila dipahami dengan tepat, akan menghasilkan perilaku yang bajik.

9. Zoosentrisme

Zoosentrisme adalah etika yang menekankan perjuangan hak-hak binatang, karenanya etika ini juga disebut etika pembebasan binatang. Tokoh bidang etika ini adalah Charles Brich. Menurut etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi para penganut etika ini, rasa senang dan penderitaan binatang dijadikan salah satu standar moral. Menurut The Society for the Prevention of Cruelty to Animals, perasaan senang dan menderita mewajibkan manusia secara moral memperlakukan binatang dengan penuh belas kasih.

10. Antroposentris

antroposentris yang menekankan segi estetika dari alam dan etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus. Etika ekologi dangkal yang berkaitan dengan kepentingan estetika didukung oleh dua tokohnya yaitu Eugene Hargrove dan Mark Sagoff. Menurut mereka etika lingkungan harus dicari pada aneka kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika. Sedangkan etika antroposentris yang mementingkan kesejahteraan generasi penerus mendasarkan pada perlindungan atau konservasi alam yang ditujukan untuk generasi penerus manusia.  

Etika yang antroposentris ini memahami bahwa alam merupakan sumber hidup manusia. Etika ini menekankan hal-hal berikut ini :
  1. Manusia terpisah dari alam,
  2. Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia.
  3. Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya
  4. Kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia
  5. Norma utama adalah untung rugi.
  6. Mengutamakan rencana jangka pendek.
  7. Pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya dinegara miskin
  8. Menerima secara positif pertumbuhan ekonomi
Lihat juga kumpulan artikel tentang lingkungan hidup di bawah ini :

1.    Pengertian Lingkungan Hidup Menurut Pakar/Ahli

3.    36 Pengertian Istilah-Istilah Terkait Lingkungan Hidup

5.    Perbedaan Ekologi dan Ekosisitem

6.    Kumpulan Undang-Undang Lingkungan Hidup

20. Pencemaran Lingkungan Sekitar

Di Batas Waktu 2015

Oleh : Ato Basahona



Detik, menit dan jam saling berangkulan
Hari, minggu dan bulan  kian bermesraan
Dalam memeluk peradaban yang manja
Demi sebuah senyuman keseimbangan alam

Waktu
Sebuah perlombaan individu yang abstrak
Waktu
Bagai jejak musafir yang tak kunjung  hilang

Dimensi menatap ruang dan waktu
Dengan beragam harapan misteri
Dengan logika yang merindu kembal
Dan logika yang tak ingin kembali

Saat ini ku genggam sebagai nilai
Saat  ini punya sejarah dalam coretan
Dan beragam dunia 2015 punya cerita

2016 menanti tanpa cerita pasti
Mari melangkah kawan
Mari tersenyum dalam waktu
Mari tundukkan waktu kawan

Masa depan milik kita
Masa depan bukan lawan
Dan masa depan milik orang-orang terdepan
Sebab masa lalu dan masa depan Ada di masa sekarang

Manado, 31 Desember 2015

Di Atas Meja

Oleh : Muzakir Rahalus

di atas meja, kau dan aku
tertidur dalam sebuah puisi-- yang ditulis sunyi-- kepada dingin

di atas meja, secarik kertas dan pensil
bosan menunggu sunyi--yang di tangannya-- kau dan aku ada di sana 

sebagai puisi,
yang tak habis ditulisnya
kepada dingin.

Manado, 28 Desember 2015

Sebelum Hujan

Oleh : Muzakir Rahalus

Sebelum hujan, awan dan langit akan memberi kabar. Awan-awan akan menggumpal hitam, dan membungkus matahari. Langit akan berteriak keras, dan menghantarkan kilatan; dari suara guntur dan halilintar.
Sumber Gambar : garisbawahku.blogspot.com
Sebelum hujan, kita duduk di depan rumah tua. Di bawah pohon jambu, yang buahnya akan dipanen hujan.

Sebelum hujan, kau mengajakku membawa ember. Untuk menampung hujan, atau jambu-jambu yang berguguran nanti.

Sebelum hujan, kita telah menanam prasangka. Kepada hujan yang rahmat, dan gugur jambu demi tanah.

Manado, 28 Desember 2015 


(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Suatu Sore di Bawah Jembatan Siak, Pekanbaru, Riau)

Suatu Sore di Bawah Jembatan Siak, Pekanbaru, Riau

Oleh : Muzakir Rahalus

Bagi sebagian anak, jembatan adalah tempat yang paling menyeramkan untuk dijadikan tempat bermain. Bagi sebagian yang lain lagi, jembatan adalah tempat yang paling menyenangkan untuk dijadikan tempat bermain, dan tempat mencari uang untuk jajanan.


Hari itu, saya dijemput Mba Wulan dan Pak Juna di kediaman tempat saya dan rombongan HMI Cabang Manado tinggal, di Jl. Aur Kuning. Saya diajak jalan-jalan keliling kota Pekanbaru. Berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap ramai, dan mencicipi beberapa makanan khas Pekanbaru. 

Ada satu tempat yang menurut orang-orang setempat, paling identik dengan Pekanbaru. Tempat yang paling mewakili Pekanbaru. Maksudnya, untuk mengakui kalau kita pernah ke Pekanbaru, harus ke sana dulu. Sama halnya dengan ungkapan, "Jangan mengaku pernah ke Manado, kalau belum pernah ke Bunaken".

Nama tempat itu adalah Jembatan Siak. Jadi, kalau kita belum pernah ke Jembatan Siak, berarti kita belum pernah ke Pekanbaru. Saya juga tidak tahu, apa kelebihan dari Jembatan Siak, hingga begitu disanjung oleh orang-orang Pekanbaru. Tapi, mungkin ada sejarahnya. Saya juga tidak banyak bertanya.
Di Jembatan Siak, setiap sorenya selalu ramai dikunjungi. Ada yang hanya sekedar memotret senja dari jembatan, ada juga yang menjadikannya tempat bermain: anak-anak biasanya. Mereka berdiri di atas jembatan, dan melompat turun ke sungai. Jembatan dan sungai adalah teman bermain mereka, juga tempat mencari uang jajan. Mereka akan melompat sesuka hati. Tapi, kalau ada pengunjung yang datang, mereka akan menawarkan setiap lompatan mereka dengan uang. Mencari pengunjung yang bersedia membayar, dan mereka akan melompat turun.

Sama seperti sore itu. Ketika sedang asyik-asyik foto dan menikmati pemandangan, kita didatangi seorang anak. Umurnya sekitar 17 tahun.

" Bang, saya lompat dari atas, harganya Rp 10.000,-" kata anak itu, sambil menunjuk ke arah jembatan.

"Waduh. Belum dek," saya membalas tawarannya dengan senyum. 

Anak itu berpindah tempat dan kembali bertanya ke Pak Juna dan Mba Wulan.
"Bang, Mba, saya lompat dari atas, harganya Rp 10.000,-"

Rupanya, hari itu bukan hari baik untuk dia. Tawarannya belum dibalas oleh Pak Juna dan Mba Wulan, hujan sudah lebih dulu menyapa kita. Semoga rezeki kalian bertambah setiap sore, wahai anak-anak pemberani.

Manado, 27 Desember 2015


(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Jika Aku Speker)

Jika Aku Speker

JIKA AKU SPEKER

By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf



... Jika aku adalah speker,
Aku tak mau tinggal di Masjid
Jika aku adalah speker ...
Aku lebih, memilih bisu
Dan diam di segala suara.

Jika aku adalah speker, maka
Salahkan aku, dengan segala pembakarannya.

Jika aku adalah speker,
Maka akulah yang bersalah
Ambil aku dan bakarlah sekuat dengki
Jangan bakar rumahku
Jangan bakar rumahNya
Jangan bakar rumah mereka.

Jika aku adalah speker ...
Bakarlah aku dalam sunyi
Tanpa bunyi dari suaraku.

Minggu, 19 Juli 2015

(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : KRITIK TERHADAP STATUS DI JEJARING SOSIAL)

Kritik Terhadap Status di Jejaring Sosial

Kritik Terhadap Status di Jejaring Sosial

By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf


Berteman dengan orang yang sama-sama masih belajar menulis itu aneh dan unik. Mereka selalu memperhatikan apa yang kau tulis. Entah tulisan galau atau tulisan lainnya yang motivatif. Anggapan mereka begini: "Walau menulis status biasa, tetaplah perhatikan segala sesuatunya. Sudah termasuk EYD".


Pernah, status saya dikritik karena ada satu kata yang menurutnya tidak sesuai dengan EYD. Komentarnya begini, "Sobat! Sekedar masukan. Kata 'di bunuh' yang kau tulis itu, seharusnya 'dibunuh'." Karena ini adalah masukan buat saya, walau mungkin hanya faktor kekhilafan, atau memang ketidaktahuan saya, saya terima dengan senyum paksa, juga emosi dari dalam hati. Karena emosi itu cukup mengganggu, saya langsung membalasnya dengan ramah juga kritik. Kurang lebihnya seperti ini:

"Terima kasih bung atas masukannya. Mudah-mudahan cukup berguna untuk saya, juga orang lain yang membacanya."

Saya berpikir, saya yang bukan seorang penulis saja, dikritik masalah bahasa dalam menulis status. Tapi, kenapa kelas kakak Sungging Raga, yang kebanyakan menulis statusnya disingkat-singkat penulisannya tidak pernah dikritik?

Takut ditatar habis-habisan?
(Sambil tertawa. Hehehe).


(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Malas)

Malas

MALAS
By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf



Bukan hanya kau,
Aku juga begitu
Dinginmu memeluk tubuhku
Menawarkan batuk, memangkas rindu
Mencium bau pilek, menerobos laju
Dalam muluk
Dalam lubuk
Dalam gubuk
Kuterkulai
Aku malas bertemu hujan
Dalam jejak--berpekan-pekan.
Hujan adalah suaru batuk yang berdahak dengan keras di mulutku.

Aur Kuning: Pekanbaru, 2015

(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Like dan Komentar)

Like dan Komentar

Like dan Komentar

By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf


Memberikan jempol (like) atau mengomentari sebuah tulisan di facebook, entah itu status biasa, tulisan tentang kesehatan, berita-berita terkini, laporan/catatan perjalaan, ide-ide dan gagasan, puisi-puisi, fiksi mini, cerpen dsb... Bagi sebagian orang adalah hal yang biasa-biasa saja. Hal biasa yang terbiasa dibiasa-biasakan.

Berbeda dengan saya. Jempol tanda suka dan mengomentari tulisan-tulisan yang dijadikan status, atau dalam kata facebook, "apa yang anda pikirkan?" "memperbaharui status", dsb oleh teman-teman saya di facebook, saya jadikan sebuah tanda. Saya menjadikan itu sebagai tanda, bahwa saya ada dan sedang berinteraksi dengan mereka. Sebagai tanda, bahwa saya ingin berkomunikasi atau bersosialisasi, berbagi pendapat, atau sekedar bermain-main, bersendagurau, bahkan, berperang kata-kata, emoticon-emoticon lucu, sampai perang gambar-gambar lucu.

Jadi, kadang, saya sering makan hati saya sendiri, ketika saya melihat banyak dari teman-teman saya di facebook yang mencueki komentar-komentar dari teman-teman mereka (termasuk saya), dalam tulisan yang dia tulis di facebook. Tulisan yang begitu memancing teman-temannya untuk berkomentar, tapi tidak dia gubris. Atau, apalah bahasa kerennya itu.
Bagi saya, ini hal kecil yang tidak perlu diperbesarkan. Karena, saya sadar dan tahu, bahwa sikap setiap orang untuk berinteraksi di DUMAY semisal facebook, adalah berbeda-beda. Ada yang cuek, ada yang begitu ramah menyapa komentar teman-temannya dan lain-lain. Ada juga yang begitu bersemangat, ketika ada yang menyukai atau mengomentari tulisan-tulisannya di facebook; langsung dia balas dengan tak terhitung menit (tipe yang ini, bukan saya).

Himbau saya, bagi teman-teman yang tulisan-tulisannya jarang dapat "like and comment", misalnya saya, janganlah berkecil hati. Teruslah menulis. Menulis, hingga kau lupa berapa kuota yang telah kau habiskan. Percaya atau tidak, suatu saat nanti, tulisan-tulisan andalah yang akan memacu semangat, karena sudah terbiasa menulis. Tulisan andalah yang suatu saat, dapat membuat anda menjadi terkenal dan abadi. Hehe. Terlalu berlebihan ya? Maaf!

Menyangkut dengan tidak disukai atau tidak dikomentari, itu hal biasa. Berpikirlah jernih, dan tidak berburuk sangka. Mungkin saja, teman-teman anda sedang tidak online secara bersamaan dengan anda, atau, karena tulisan-tulisan anda tidak muncul di beranda-beranda mereka. Tapi, bisa jadi, ada yang sengaja cuek, karena mereka akan memilih tulisan-tulisan yang lebih berkualitas, untuk mereka baca. Hee

Menyangkut dengan ini juga, saya mau minta maaf, jika belum bisa menitipkan jempol atau meninggalkan sepatah dua kata pada tulisan-tulisan, puisi-puisi, karangan-karangan, atau cerpen-cerpen anda secara merata. Secara merata ke semua teman-teman yang sudah cukup akrab dengan saya, 'berkat facebook'. Tapi, sejujurnya, ini bukan faktor kesengajaan saya. Ini murni kekurangan facebook, karena belum mampu menghadirkan semua tulisan-tulisan anda di beranda saya. Atau, bisa jadi, ini murni keegoisan saya. Untuk itu, saya minta maaf.

Bagi siapa yang membaca ini, karena judul tulisan ini adalah "LIKE DAN KOMENTAR", sehingga kalian akan menyukai atau memeberi komentar, maka saya akan membaca kembali tulisan-tulisan anda, dan menitipkan satu atau dua jempol saya, dan memberikan komentar emoticon lucu. Itu pun kalau kalian bersedia, dan katakan " iya" di kolom komentar saya.
Sekian, dan terima kasih sudah memaafkan. 

Salam

Manado, di Hari Ibu 22 Desember 2015

(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Salah Paham)

Salah Paham

SALAH PAHAM

By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf


Kata-kata terlalu cepat menipu kita. Kata-kata telah menipumu sekian kali.
Kata dan kalimat yang baik, telah kau tafsirkan sebagai keburukan.
Dan sebaliknya
Hingga kita saling perang--
Merebut kata
Dalam puisi
yang tertutup makna
yang menyimpan makna
yang multi tafsir
yang menipu kita
yang menipumu
sekian kali.
_mrRR
2015.

(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Untukmu)

Untukmu

UNTUKMU
By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf



Ini sudah pukul 02:06 WITA
Pagi akan datang membuka mata
Tapi, ada kita yang masih terjaga
Temani hening mencari kata.

Kuingat selalu do'amu
Yang kau tulis di dadamu.

O, Putry. Inilah puisi untkmu
Puisi dari kata-katamu
Yang kupinjam dari hatimu
Yang kupinjam dari caramu 
mencintai puisi.

(Terimalah, wahai perempuanku; wanitaku-- yang terlahir
atas permintaan kata).

_mrRR

Manado,  Desember 2015


(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Kado Untuk Ibu)

Kado Untuk Ibu

KADO UNTUK IBU

By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf

Di hari ini, seperti sebagian besar orang, pasti sangat berbahagia, karena telah memberikan hadiah-hadiah kepada ibu-ibu mereka. Ibu yang telah mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan mereka sampai sebesar sekarang. Ada juga orang-orang, yang misalnya tidak bisa bertemu langsung dengan ibu mereka karena terpisah laut dan darat, mereka hanya bisa menelpon dan SMSan. Bahkan, ada juga yang hanya bisa melampiaskan rasa kangen kepada ibu mereka lewat status-status di medsos: twitter, bbm atau faceebook misalnya. Dengan menulis status, mereka merasa lega, karena rasa kangen sudah tersalurkan. Walaupun, kadang status-status itu tidak dibaca oleh ibu mereka, karena ibu mereka tak dapat menggunakan HP.


Lain lagi dengan orang-orang yang telah kehilangan ibu. Orang-orang yang ibu mereka telah meninggalkan dunia, untuk menghadap Sang Pencipta. Rasa sedih mengharubiru. Rasa sedih menyelimuti dinginnya malam, saat melihat orang-orang di sekitaran mereka lagi berbahagia. Lagi berbagi kasih dengan ibu-ibu mereka yang masih ada. Tentu, ada sebagian orang akan menjadikan kesedihan itu sebagai do'a-do'a yang akan mereka langitkan. Do'a-do'a yang akan mereka panjatkan dengan air mata. Membaca ayat-ayat untuk ibu, menulis puisi untuk ibu, atau datang ke kubur ibu mereka, walau hanya untuk menyiramkan air mata duka di atas gundukan tanah--yang menjadi tempat peristirahatan ibu mereka--yang paling aman; yang paling damai; yang paling dingin; yang paling sendiri. Ya. Itulah tempat tinggal kita semua kelak. Saya do'akan: semoga ibu teman-teman semua yang telah meninggal, agar dapat dimaafkan segala dosa-dosa oleh-Nya yang Maha Pemaaf. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Hari ini, saya tergolong orang yang masih bisa dikatakan sangat bahagia. Masih bisa merasakan kasih sayang ibu. Masih bisa merasakan hangatnya pelukan ibu di hening malam, lewat do'a yang ia panjatkan kepada anak-anaknya. Do'a yang begitu singkat, tapi penuh dengan kasih sayang. Ya. Saya bisa merasakan itu, walau kita dipisahkan oleh jarak; dipisahkan darat, laut, udara, bahkan angin-angin kecil yang memanggil-manggil hujan di sekitaran pipi kita. Pipimu yang mulai keriput, dan pipi saya yang begitu kenyal. Semoga kau dan semua ibu-ibu yang lain; ibu-ibu yang anak-anak mereka dalam perantauan, sehat selalu, hingga cita-cita bersama dapat tercapai. Lewat cerita ini, saya ingin sekali mengucapkan rasa bangga yang sebesar-besarnya. Bangga yang sangat sulit saya tuliskan menjadi puisi. Bangga yang luar biasa sekali. Ibu, semoga engkau tetap tegar dengan kerentahan umurmu, dan wajahmu yang tua. Hingga kelak, saya bisa memelukmu, mencium mesra kedua keningmu, hingga lelah dan terjatuh di kedua kakimu yang surga. Kedua kakimu--yang menyimpan banyak kedamaian.

Sekali lagi. Di hari ibu ini, belum ada yang bisa saya hadiahkan kepadamu. Ingin sekali menanyakan kabarmu lewat telpon, tapi, kau pasti sudah tahu. Jaringan di kampung sangat kacau. Mudah-mudahan, siapapun dia, yang terpilih nanti jadi Bupati Kabupaten Halmahera Selatan, bisa memperhatikan ini. Semoga.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Saya semakin lupa dan bodoh merangkai kata-kata untukmu. Kata-kata yang bisa menceritakan sedikit kisah tentangmu. Kisah perjuangan dan kesedihanmu--mengandung, melahirkan, merawat, hingga membesarkan semua anak-anakmu--yang tak mau saya lupakan. Terima kasih yang sebesar-besarnya sekali lagi. Semoga sehat selalu.

Akhir kata, do'a terbaik untukmu. Satu hal lagi yang ingin saya katakan, yang ingin saya kirimkan kepadamu sebagai kado di hari ini. Sebagai hadiah bagi semua Ibu dari anak-anaknya. Sebagai kado yang paling beda dari kado semua anak-anak kepada ibu-ibu mereka, bahwa;
"Kata-kata dan puisi-puisi yang belum bisa dan paling aulit saya tulis adalah senyum bahagianmu, Ibu! Salam".

Anakda Muzakir Rahalus di Manado, 22 Desember 2015.

(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Sedikit Kisah di Pekanbaru)