Pengertian Analisis Vegetasi Menurut Ahli

Vegetasi dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Rohman dan Sumberartha, 2001).

Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan (Rohman dan Sumberatha, 2001) :
1.    Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
2.    Mempelajari tegakan tumbuh-tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring (Syafei, 1990).
Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain (Syafei, 1990).
Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).

Baca Juga : Perbedaan Ekosistem dan Ekologi

Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Baca Juga : Tiga Metode Konservasi Tanah dan Air


Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1995).
Hal yang perlu diperhatikan dalam analisis vegetasi adalah penarikan unit contoh atau sampel. Dalam pengukuruan dikenal dua jenis pengukuran untuk mendapatkan informasi atau data yang diinginkan. Kedua jenis pengukuran tersebut adalah pengukuran yang bersifat merusak (destructive measures) dan pengukuran yang bersifat tidak merusak (non-destructive measures).
Untuk keperluan penelitian agar hasil datanya dapat dianggap sah (valid) secara statistika, penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus menggunakan satuan contoh (sampling unit), apalagi bagi seorang peneliti yang mengambil objek hutan dengan cakupan areal yang luas. Dengan sampling, seorang peneliti/surveyor dapat memperoleh informasi/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih teliti dengan biaya dan tenaga lebih sedikit bila dibandingkan dengan inventarisasi penuh (metoda sensus) pada anggota suatu populasi. Untuk kepentingan deskripsi vegetasi ada tiga macam parameter kuantitatif vegetasi yang sangat penting yang umumnya diukur dari suatu tipe komunitas tumbuhan yaitu kerapatan (density), frekuensi, dan cover (kelindungan) (Irwanto, 2010).

Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan tertentu, misalnya 100 individu/ha.Dalam mengukur kerapatan biasanya muncul suatu masalah sehubungan dengan efek tepi (side effect) dan life form (bentuk tumbuhan). Untuk mengukur kerapatan pohon atau bentuk vegetasi lainnya yang mempunyai batang yang mudah dibedakan antara satu dengan lainnya umumnya tidak menimbulkan kesukaran yang berarti. Tetapi, bagi tumbuhan yang menjalar dengan tunas pada buku-bukunya dan berrhizoma (berakar rimpang) akan timbul suatu kesukaran dalam penghitungan individunya. Untuk mengatasi hal ini, maka kita harus membuat suatu kriteria tersendiri tentang pengertian individu dari tipe tumbuhan tersebut.
Masalah lain yang harus diatasi adalah efek tepi dari kuadrat sehubungan dengan keberadaan sebagian suatu jenis tumbuhan yang berada di tepi kuadrat, sehingga kita harus memutuskan apakah jenis tumbuhan tersebut dianggap berada dalam kuadrat atau di luar kuadrat. Untuk mengatasi hal ini biasanya digunakan perjanjian bahwa bila > 50% dari bagian tumbuhan tersebut berada dalam kuadrat, maka dianggap tumbuhan tersebut berada dalam kuadrat dan tentunya barns dihitung pengukuran kerapatannya (Irwanto, 2010).
Frekwensi suatu jenis tumbuhan adalah jumlah petak contoh dimana ditemukannya jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat. Biasanya frekwensi dinyatakan dalam besaran persentase.   Misalnya jenis Avicennia marina (api-api) ditemukan dalam 50 petak contoh dari 100 petak contoh yang dibuat, sehingga frekwensi jenis api-api tersebut adalah 50/100 x 100% = 50%. Jadi dalam penentuan frekwensi ini tidak ada counting, tetapi hanya suatu perisalahan mengenai keberadaan suatu jenis saja (Irwanto, 2010).

Kelindungan adalah proporsi permukaan tanah yang ditutupi oleh proyeksi tajuk tumbuhan. Oleh karena itu, kelindungan selalu dinyatakan dalam satuan persen. Misalnya, jenis Rhizophora apiculata (bakau) mempunyai proyeksi tajuk seluas 10 mZ dalam suatu petak contoh seluas 100 m-, maka kelindungan jenis bakau tersebut adalah 10/100 x 100% = 10%. Jumlah total kelindungan semua jenis tumbuhan dalam suatu komunitas tumbuhan mungkin lebih dari 100%, karena sering proyeksi tajuk dari satu tumbuhan dengan tumbuhan lainnya bertumpang tindih (overlapping). Sebagai pengganti dari luasan areal tajuk, kelindungan bisa juga mengimplikasikan proyeksi basal area pada suatu luasan permukaan tanah.dan luasannya diukur dengan planimeter atau sistem dot­grid dengan kertas grafik (Irwanto, 2010).
Basal area ini merupakan suatu luasan areal dekat permukaan tanah yang dikuasai oleh tumbuhan. Untuk pohon, basal area diduga dengan mengukur diameter batang. Dalam hal ini, pengukuran diameter umumnya dilakukan pada ketinggian 1.30 m dari permukaan tanah (diameter setinggi data atau diameter at breast height, DBf) (Irwanto, 2010)

Analisis Vegetasi



Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut.

1. jumlah petak contoh,
     2. cara peletakan petak contoh, dan
     3. teknik analisis vegetasi yang digunakan.

Prinsip penentuan ukuran petak:

1.  petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas,
2.  petak harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung, dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian.

Penentuan luas petak contoh yang  mewakili suatu komunitas dapat dilakukan melalui teknik Kurva Spesies Area (KSA).Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan:

1. luas mi nimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur,
2. jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur.

Caranya adalah dengan mendaftarkan jenis-jenis yang terdapat pada petak kecil, kemudian petak tersebut diperbesar dua kali dan jenis-jenis yang ditemukan kembali didaftarkan.

Pekerjaan berhenti sampai ketika penambahan luas petak tidak menyebabkan penambahan yang berarti pada banyaknya jenis.
Luas minimun ini ditetapkan dengan dasar jika penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 5-10% (Oosting, 1958; Cain & Castro, 1959).

Untuk luas petak awal tergantung surveyor, bisa menggunakan luas 1mx1m atau 2mx2m atau 20mx20m, karena yang penting adalah konsistensi luas petak berikutnya yang merupakan dua kali luas petak awal dan kemampuan pengerjaannya di lapangan.

Dari hasil di atas dapat ditetapkan bahwa luas petak ukur yang dapat mewakili komunitas pada rumput tersebut adalah adalah 8m x 16m atau 0.128 ha.
Luasan ini bukanlah harga mutlak bahwa luas petak ukur yang harus kita gunakan adalah 0.128 ha, tapi nilai tersebut adalah nilai minimum, artinya kita bisa menambah ukuran petak contoh atau bahkan memodifikasinya karena yang harus kita perhatikan bahwa petak contohnya tidak kurang dari hasil KSA.

Contoh untuk memudahkan pekerjaan di lapangan, sebaiknya ukuran petak tersebut berbentuk bujur sangkar, sehingga petak hasil KSA tersebut dapat diubah menjadi ukuran 12m x12m (0,0144 ha).

Jika sudah dapat ditentukan luas petak m inimum, maka tentukan pula jumlah petak contoh keseluruhan. Contoh: luas kawasan yang akan kita eksplorasi adalah 10 ha, ukuran petak contoh yang ditentukan 12m x 12m dan kita menginginkan intensitas sampling (IS) 5%

artinya, kita hanya akan mengukur 5% dari luas total 10 ha.
Maka jumlah petak contoh yang harus kita gunakan  adalah sbb.

       LUAS AREA = 10 HA
       IS = 5% = 5% X 10 HA = 0,5 HA
       LPC = 12M X 12M = 144 M2 = 0,0144 HA
       JPC = 0,5 HA / 0,0144 HA = 34,72

cara peletakan petak contoh:

1.  cara acak (random sampling) dan
2.  cara sistematik (systematic sampling),

   random samping hanya mungkin digunakan jika vegetasi homogen, misalnya hutan tanaman atau padang rumput (artinya, kita bebas menempatkan petak contoh dimana saja, karena peluang menemukan jenis bebeda tiap petak contoh relatif kecil). 

   sedangkan untuk penelitian dianjurkan untuk menggunakan systematic sampling, karena lebih mudah dalam pelaksanaannya dan data yang dihasilkan lebih bersifat representative. bahkan dalam keadaan tertentu, dapat digunakan purposive sampling.

   komponen penyusun vegetasi adalah fokus dalam pengukuran vegetasi. komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri atas: 

1.  belukar (shrub): tumbuhan berkayu yang banyak bertangkai serta subtangkai. 
2.  epifit (epiphyte): tumbuhan yang hidup di permukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3.  paku-pakuan (fern): tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dan pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4.  palma (palm) : tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5.  pemanjat (climber) : tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6.  terna (herb) : tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7.  Pohon (tree) : tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.

permudaan pohon terdiri atas:

a. Semai (seedling): permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (sapling): permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c.  Tiang (poles): pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
d. Pohon (Wood): pohon berdiameter lebih dari 20 cm 

adapun parameter vegetasi yang diukur di lapangan secara langsung adalah:

1. nama jenis (lokal atau botanis)
2. jumlah individu setiap jenis untuk menghitung kerapatan
3. penutupan tajuk untuk mengetahui persentase penutupan vegetasi terhadap lahan
4. diameter batang untuk mengetahui luas bidang dasar dan berguna untuk menghitung volume pohon.
5. tinggi pohon, baik tinggi total (tt) maupun tinggi bebas cabang (tbc), penting untuk mengetahui stratifikasi dan bersama diameter batang dapat diketahui ditaksir ukuran volume pohon.

INDEX NILAI PENTING:

Menetapkam dominansi suatu jenis thd jenis lainnya  - menggambarkan kedudukan/status ekologis suatu jenis dalam komunitaMerupakan penjumlahan KR+FR+DR 

Pelaksanaan di Lapangan

Pelaksanaan dilapangan dapat menggunakan Sistematis Sampling atau Random Sampling tergantung keadaan lapangan. Biasanya Sistematis Sampling dipakai pada metode transek atau garis yaitu petak mengikuti garis lurus dengan konsisten teradap jarak tiap petak sedangkan apabila menggunakan Random Sampling biasanya petak berada dalam posisi acak namun tetap konsisten dengan jarak tiap petak yang sama.

Pelaksanaan biasanya dilakukan dengan survey awal lokasi atau berdasarkan informasi yang diperoleh. Setelah dilakukan survey lokasi selanjutnya dilakukan pembuatan plot ukur dan kemudian dilakukan pengumpulan lewat pengamatan jenis pohon. Pengukuran di lokasi dilakukan sepanjang yang diinginkan dilapangan.

Pengumpulan data di lokasi menggunakan metode acak atau sistematis sampling dengan ukuran  2x2 , 5x5 , 10x10 dan 20x20 atau 20 m x 50 m utuk mengkaver semua ukuran dibawahnya.

Bahan dan Alat :

1. Tali sheet
2. Tali Nilon
3. Alat Tulis
4. Meter Roll
5. Pisau
6. Kompas dan 
7. Buku Jenis Tunbuhan atau Kunci Identifikasi

Alat dan bahan di atas hanyalah sebagian yang pada umumnya harus di bawa ke lapang namun apabila ada tambahan alat dan bahan yang teman-teman akan menambahkan, silahkan saja. Intinya di sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Mengingat tiap lokasi dalam melakukan melakukan Ananlisis vegetasi berbeda-berda tipografinya atau keadaan alam.

Rumus yang sering digunakan dalam Analisis Vegetasi dalam perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) :  (Jangan Lupa Baca Juga : Pengertian Analisis Vegetasi Menurut Ahli)



Analisis Swot Mahasiswa

Analisis Swot adalah sebuah alat yang disusun untuk digunakan sebagai analisis rekayasa transformasi sosial di masyarakat. Perlu diadakan rekayasa karena pada realitas masyarakat terdapat masalah yang harus dianalisis dan diselesaikan dengan menggunakn tows. Sebelum melakukan atau menyusun tows kita terlebih dahulu harus membuat ranser.


S         : straigh (kekuatan)
W        : weaknes (kelemahan)
O         : oportunes (peluang)
T         : threats (tantangan)

Ranser adalah bahan penyusunan rekayasa sosial sebagai alat untuk menganalisis realitas masyarakat faktual agar terjadi akurasi dalam membuat atau menyusun tows itu sendiri, Ranser sangat berperan penting dalam hal ini penyusuna tows karena apabila terjadi kesalahan dalm ranser maka data yang di aktualisasikan pada tows hanya akan menjadi data sampah, karean dalam mekanisme penyusunan ranser ada terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan yaitu data dan gigo (sampah masuk dan sampah keluar) jadi apabila terjadi kesalahan pada data yang masuk maka data yang keluar pun hanya akan menjadi data sampah dan tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Mekanisme dalam menganalisi masalah

Mekanisme dalam menganalisis problematika yang terjadi di masyarakat dalam melakukan analisis secara konprehensif. Sebelum melakukan interpretasi kita harus cermat dalam membedakan antara gejala dan masalah. Kebanyakan orang terperangkap dalam melakukan analisis adalah salah dalam menentukan antara masalah dan gejala.

Contoh :
Menganalisis masalah yang terjadi pada kader HMI-MPO sebagai peserta intermediate training  regional  se-indonesia bagian timur. Ada peserta yang mengeluh sakit kepala, pertanyaanya adalah apakah itu masalah atau gejala..??

Dalam  mendekteksi masalah lihat dulu hal-hal apa yang terjadi dari awal :
Mahasiswa adalah agen of change yang berintelektual dan cendekiawan atau perkataan Ali Syariati mahasiswa adalah Rausan fikr (orang yang tercerahkan) agar dapat melakukan rekayasa tranformasi pada masyarakat jadi Mahasiswa bergabung dengan Oragnisasi HMI-MPO dan untuk menambah spirit intelektual maka harus mengikuti intermediate training  regional  (LK II), dalam kegitan terjadinya konsolidasi

 1. Konsolidasi organisasi
Tergabungnya para kader HMI-MPO dari masing-masing cabang Indonesia bagian timur dalam suatu wilyah dan tempat yang sama.
 2. Konsolidasi kultur
Terdapat kultur yang berbeda-beda, dari Makassar, Manado, Majene, Gorontalo dan Manado.
 3. Konsolidasi gerakan
Terjadinya gerakan yang massif karena tergabungnya kader dari tiap cabang dengan tujuan yang satu yaitu terbinanya mahasiswa Islam menjadi Insan ulil albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang di ridhoi Allah.

Sakit kepala sebenarya adalah gejalah karena banyak disibukan dengan pembuatan makalah, pembuatan makalah karena mengikuti intermediate training bila ditelusuri terus maka akan sampai pada masalahnya  dan yang menjadi masalah disini adalah pokok dari mengapa sampai terjadinya gejalah tersebut yaitu sakit kepala. Ibarat suatu pohon masalahnya terdapat pada akar dari pohon tersebut sedangkan gejalanya berada pada ranting, batang dan daun.

Jadi untuk melakukan rekayasa dalam menyelesaikan suatu problematika maka kita harus melihat akar dari masalahnya dan jangan terjebak hanya pada wilayah gejala sebab hal itu tidak akan selesai malahan indikasi gejala yang lain yang akan terdeteksi.

Dalam Ilmu ekonomi masalah dalam masyarkat di bagi menjadi :

 1. Masalah terstruktur
Masalah yang terjadi pada realitas masyarakat karena akibat dari ulah manusia tau
intervensi manusia dan masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan menggunkan
teknologi atau swot.
 2. Masalah tidak terstruktur
Masalah yang terjadi secara alami seperti banjir, gempa, dan letusan gunung
merapi. Swot belum dapat menyelesaikan masalah seperti itu karena swot masih
dalam koteks menganalisis masalah yang sudah terjadi.
 3. Semua terstruktur
Yaitu gabungan dari kedua masalah di atas.

Kelebihan dan kekurangan dari Swot

Swot adalah sebuah alat yang multiguna dapat dimanfaatkan pada berbagai bidang baik, ekonomi, sosial, budaya dan politik karena swot dapat dikatakan sebagai alat atau strategi gerakan yang sistematis dan terorganisir dalam melakukan rekayasa transformasi sosial, dapat dipastikan bahwa swot akan memberikan hasil yang maksimal. Yang namanya suatu alat buatan manusia disamping terdapat kelebihan ada juga kelamahan-kelekahanya.

Ada 2 kelemahan dari swot :

 1. Kekurangan dari swot adalah alat ini tidak fleksibel, artinya bahwa apabila semua ranser atau data sudah tersusun dengan baik dan teratur dan tiba-tiba terjadi perubahan pada objek yang akan dianalisis maka semua data harus dikumpulkan lagi dari awal dan disusun kembali maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

 2. Satu lagi kelemahan dari swot adalah dalam melakukan analisis transformasi dalam masyarakat dibutuhkan lebih dari satu orang, alat ini tidak dapat dipakai oleh seorang saja kerena akurasinya akan kurang tepat dalam menganalisis masalah.

Nietzsche dan Profesi Sabotase Parah Tuan-Tuan

Oleh        : Tri Saleh 
Facebook : https://www.facebook.com/tri.saleh1?fref=ts

Lelaki itu diam dan tertawa menyimpan. Mengingat histori Nietzsche saat pada kebingungannya, telah mencari keberadaan dan kebenaran tentang tuhannya. Awal itu, lelaki perkasa, buntut pergi mencari pencipta kehidupan keberadaan dari manusia tanpa kejelasan agamanya. Ia mendahului dan mampir disela-sela tempat peribadatan dan menemukan tuhanya. Dimana tuhan yang dia temukan, telah terpampang lengah dan pasrah. Simbol itu menafsirkan jawaban kebingungan pada lelaki yang yakin akan tuhan disetiap persinggahan pencarian. Jangan kaget tentang tuhan. Aww...! tuhan itu, sadar tak sadar, entah heran tak heran. kusebut, mereka demi kerahasiaan. mereka adalah jumlah yang banyak pada usia kehidupan. 

Sumber Gambar : www.victorygateproductions.com

Mereka ialah dua serangkai perempuan misteris. Kenapa? Hmm...! Jangan bertanya, tentu samar kujelaskan. Mereka tuhan pada simbol kehidupan keseharianku yang sungguh unik dan lucu. saat main-dipermainkan hadir diselah kebingungan kehidupan lelaki yang sedang menitik pencarian ketidakjelasan. Jangan tidur yea...! Tuhan itu jangan dipersepsi bagaikan awalan huruf yang bermula pada huruf besar ' T ', biarkan tuhan itu tetap berawalan huruf kecil ' t '. Agar tidak salah siapa tuhan-tuhan yang kita maksud. Huhui..., Iaahk..., kwak...kwak..kwak...! Itu samar...?! Ia,Karena bagi lelaki tersendiri dari sebagian banyak lelaki disekeliling itu 'cuaap...', mereka telah terbaca menggerakkan, yaitu gerakkan mulut bagaikan sibotak licin, terlihat dan tertulis sertah tergambarkan pada kulit buku yang berjudul 'Intelegen dan Profesi Unik Orang-orang Aneh'. 

Disitu menjelaskan tentang gerakan dan permainan unik para profesi pembagian agen-agen. Mereka adalah, sebut saja, lelaki-lelaki berprofesi agen sabotase. Hahaii..., santai saja! Pintas terbaca profesi itu. tidak menang tangguh bagi saya. maksudku, ' saya lelaki tersendiri '. Kenapa...? Begitu memang. mungkin menurut lelaki diam, bingung, lucu, dan tertawa...! Karena jejak dan cara pintas itu terbaca bagi kalian lelaki yang berprofesi sabotase, untuk merebut kemenangan dan kejelasan sertah menghindarkan lelaki tersendiri, terhadap tuhan-tuhan itu. tuhan-tuhan itu, disimbolkan saja pada kedua wanita misteris.

Saking dekatnya lelaki tersendiri pada wanita-wanita itu, saking diam juga lelaki itu menerawang sebagian teknik dan strategi sabotase lelaki-lelaki usia tua disekeliling. He...he...he..., jangan...! Maksud saya jangan lama-lama. Segera...! Karena bersusah-payahlah kalian mengatur strategi, tanpa menyadari dan mengetahui bahwa, tuhan-tuhan atau wanita misteris yang kalian buntuti adalah, rayapan se-ekor buaya yang diam dan sudah mengenakkan bisa-nya dengan lidah runcing yang apa kalian rebut itu. Ekhemm...! Bukan sisa-sisa ya! Tetapi, tuhan-tuhan itu masi sempurnah pada hakekat mereka. Otreeee..., Thaks Boy-boy penakluk pencarian tuhan-tuhan pada setiap persimpangan persaingan. (Baca Juga Tulisan Tri Saleh : Cuit...cuit...! Lelakai Tersenyum dan Hati Merasa)

Cinta TUHAN Ku dan Kau

Oleh        : Karmila Saleh 
Facebook : https://www.facebook.com/saleh.karmila?fref=ts

Seperti itu saja seterusnya sikapmu terhadapku. Iya aku sadar telah memilih untuk mencintaimu. Iya aku sadar akan konsekwensi yang ku dapat. Iya aku sadar meminta rasa ini tak usah di gubris. Iya aku sadar semua rasa sakit yang kuciptakan sendiri ini. Tapi, apa hakmu untuk mengadiliku.Tapi, apa hakmu dengan seenaknya menyakitiku. Apa karena aku saja yang punya rasa cinta ini padamu lantas kau bisa seenaknya dengan perilakumu menyakiti hatiku.


Aku tak meminta apa-apa dari perasaan ini. Tak minta harus di balas. Tak minta harus di gubris. Tak minta juga harus di hargai namun yang kuminta adalah kau bersikap biasa saja. Anggap saja aku tak pernah mengutarakan bahasa itu. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa. Karena aku adalah seseorang yang ekspresif. Yang semua rasa hati aku suka mengungkapkannya. Rasa marah, Rasa sedih, Rasa senang, Rasa cinta, Rasa benci. Semuanya itu akan tertuang di dalam kata-kata, sikap atau pun raut wajahku. Alasan mengungkapkannya banyak, salah satunya agar rasa itu dikeluarkan dengan kata dan ekspresi mungkin saja tidak akan bersarang dan bias pergi dari hati.

Mungkin saja dengan mengungkapkannya bisa melegakan saluran pernapasan. Mungkin saja dengan mengungkapkannya aku terhindar dari sifat munafik atas rasa. Karena dengan mengungkapkannya aku sudah memilih untuk berusaha menghilangkan dan melupakan rasa itu yang biasa disebut dengan “cinta” dan tentang sikapku padamu, itu hanya kiasan saja. Memang terlihat sangat “mencintai” menurutmu tapi menurutku itu hanya pemerataan sikap padamu dan pada teman lainnya. Tenang saja, aku cukup tahu diri tentang hal ini. Karena pengalaman sudah beberapa kali menamparku tentang hal ini. Dan jika kau menganggapnya lebih, berarti itu urusanmu bukan aku. Bersikap baik bukan berarti mencinta, tapi mencinta sudah pasti bersikap baik. Itu saja.

Namun,Terima kasih sudah menyayangiku dengan tulus selama ini. Maaf ku tak bisa memiliki cintamu karena Tuhanku. Semoga kau bisa paham.
Ini juga sulit untukku. Kau dan aku tak pernah berharap saling bertemu dan jatuh cinta kepada orang yang salah.
Ups maaf, bukan orangnya yang salah
Atau cintanya yang salah?
Kenapa bukan agama yang memisahkan kita saja yang disalahkan
Sebenarnya tidak ada yang salah, pertemuan kita terjadi karena Tuhan yang atur.

Cinta adalah suatu rasa yang fitrah dari Tuhan untuk kita rasakan kepada sesama makhluk. Agama adalah pedoman hidup kita, Kita memang tidak pernah bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Rasa itu tumbuh begitu saja tanpa kita sadari apalagi direncanakan.

Memang aku bukan orang yang termasuk golongan “fanatik" tentang agama. Tapi agama untukku bukan sekedar pedoman hidup.
Lebih dari itu agama adalah prinsip.
Pertemuan kita tak masalah dan cinta kita suci.

Walaupun Dia yang memberikan rasa ini, tapi tak semua cinta diridhoi olehNya Karena di dunia ini disetiap aspek harus ada yang harus kita prioriskan. Dan sekali lagi maaf aku tak bisa memilih cintamu karena Tuhanku Dan aku lebih mencintai Tuhanku dengan caraku. (Baca Tulisan Karmila Saleh : Bahasa Ibu Tetap Abadi)

Bahasa Ibu Tetap Abadi

Oleh        : Karmila Saleh 
Facebook : https://www.facebook.com/saleh.karmila?fref=ts

Menulis tentang mu takkan pernah habis kosa kata. Jika di kata kau adalah inspirasi yang tak pernah mati. Hidup, kata ini menurut ku bukan tentang fisik, materi dan hal-hal yang hanya bisa dinikmati oleh panca indera saja. Hidup adalah sampai dimana sesuatu bisa mempengaruhi hidup orang lain secara menyeluruh dan intim. Dan aku hanya bisa bernapas dengan pengaruhmu. 

 
Sumber Gambar : www.compasiana.com

Ibu, jika sekarang aku tak bisa menyentuh jasad mu lagi karena takdir, tapi tak ada yang bisa memisahkan pengaruh mu terhadap napas ku, sampai kapanpun aku akan terus hidup dengan kau ibu. Sebab Dia tak pernah berdusta, dia tak pernah berbohong, tak pernah ingkar janji, tak pernah berkhianat, DIA bukan sekedar “tuhan” untuk ku karena kata itu hanya kata pasaran. DIA lebih dari itu. 

Keyakinan yang paling setia menemani ku walau sering ku meninggalkannya hanya untuk alasan yang konyol. Mungkin semua bisa mengambil apapun dari ku tapi tidak dengan keyakinan ku tentang NYA. Karena cinta untuknya tidak sembarang di bulan yang barokah ini, DIA akan mengabulkan apa yang kau panjatkan, akan menghitung sekecil zahra kebijakan yang kau lakukan. Jadi jalanilah ladang pahala Ramadhan ini dengan sepenuh hati dan keikhlasan serta raih kemenangan dengan suka cita.  Aku lebih suka mengungkapkannya melewati tulisan, jadi jangan paksa aku mengungkapkannya lewat percakapan dengan lidah yang bisa berbohong. (Baca Tulisan Karmila Saleh : Dilematis Cinta)

Dilematis Cinta

Oleh        : Karmila Saleh 
Facebook : https://www.facebook.com/saleh.karmila?fref=ts

Sudah tahu akan sesakit ini, kenapa bertahan?
Sudah tahu akan berujung begini, kenapa diteruskan?
Sudah tahu akan nelangsa, kenapa hanya didiamkan saja?
Mencintai apa harus melukai diri sendiri?
Mencintai apa harus jadi orang bodoh?
Mencintai apa harus lupa kalau kau seorang yang berpendidikan dan beragama?
Mencintai apa harus sekejam itu sampai tak mempedulikan orang disekitar ? 


Cinta tidak buta, karena dia tak bermata, karena dia tak berwujud, jika menurut mu cinta harus berwujud, jangan katakan kalau kau itu berTuhan. Tak perlu juga mencintai harus dalam cerdas, mencintai yang biasa-biasa saja, karena Tuhan tak suka yang berlebihan. Mencintailah dengan hati dan logika, karena kita manusia bukan tumbuhan atau hewan yang tak mempunyai potensi itu.

Sabtu 8 Juni pada tengah malam. Ku temui diri ku depan notebook ungu ku sedang menuangkan isi penat dan lelah dalam sebuah file ini. sudah dua hari ku sadari kau sudah tak lagi menginjakkan kaki di tanah yang sama dengan ku. Kau telah pergi selama 53 jam dari ku dan airmata ini belum mau berhenti menemani kesendirian ku. Tak ada yang bisa ku ajak bicara untuk berbagi kesedihan ini, semua disekeliing ku mengambil sikap kontra terhadap ku. Kau bisa bayangkan bagaimna keadaan ku sekarang baru selama dua hari tanpa mu. Badan ku langsung jadi tambah kurus. Ini bukan salah mu, tak ada yaang salah. Padahal aku sudah tahu dari awal kita bertemu pasti hal ini bakal terjadi karena dari awal ku sudah tahu apa cita-cita mu, harusnya aku bisa lebih sabar dan ikhlas. Tapi pada kenyataanya aku masih di sini mendapati diri ku sedang berteman dengan pikiran yang isinya hanya kamu saja, tangisanpun tak lupa datang dalam kesuraman ini. Semunya berbicara dengan segala kemungkinan, tapi kataku kemungkinan saja belum tentu terjadi. Yang jelas aku hanya bisa sabar, berusaha dan berdoa serta yakin padamu. Tapi maaf, mungkin aku akan membiasakan diri menangis dalam senyuman agar tak ada yang tahu betapa ku tak bahagia tanpa mu.

Kesendirian sudah sangat membunuh ku, dia sudah berani mendekat dalam keramaian, dia sudah berani mengancam ku akan menghabiskan daya hidup, katanya dia sangat gampang membuat ku bak mayat hidup. Dalam ketidaksadaran ku sudah setengah jalan dia berhasil mengolok-olok kesadaran jasad ini tapi dia lupa satu hal, jasatku bisa saja kelihatan mati tapi dia tak akan pernah bisa mematikan duniaku, dunia tanpa dunia, hidup tanpa hidup, yang ada hanya pemandangan dan rasa tentang kebahagiaan, iya aku sudah sangat jauh terlarut dalam dunia imajinasi ku yg masih menjadi kotak nyaman dalam menetralisir hati ini dari virus-virus racun yg sdh 3/4 menghancur lebur harapan hati. Aku masih betah dalam dunia ku, silahkan kalian mengambil semuanya, cinta, kepercayaan dan harapan. Kalian rampas saja sesuka hati, tapi bukan dunia ku. takkan pernah..!