Kandungan Karbon Pada Ekosistem Hutan

Hutan berperan penting dalam menjaga kestabilan iklim global. Secara umum, vegetasi hutan akan memfiksasi gas karbondioksida (CO2) melalui proses fotosintesis. Jika hutan terganggu maka siklus CO2 dan O2 di atmosfir akan terganggu. Karbon merupakan produk fotosintesis yang tersimpan dalam biomasa vegetasi baik di atas permukaan maupun di bawah permukaan tanah atau dalam bentuk nekromasa serta bahan organik di dalam ekosistem hutan. Biomasa hutan sangat relevan dengan isu perubahan iklim yang disebabkan oleh adanya isu pemanasan global. Biomasa hutan berperan penting dalam siklus biogeokimia terutama dalam siklus karbon. Dari keseluruhan karbon hutan, sekitar 50% diantaranya tersimpan dalam vegetasi hutan. Jumlah C tersimpan antar lahan berbeda-beda, tergantung pada keragaman dan kerapatan tumbuhan yang ada, jenis tanahnya serta cara pengelolaannya. Penyimpanan C suatu lahan menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya baik, atau dengan kata lain jumlah C tersimpan di atas tanah (biomasa tanaman) ditentukan oleh besarnya jumlah C tersimpan di dalam tanah (bahan organik tanah, BOT). Untuk itu pengukuran banyaknya C yang tersimpan dalam setiap tipe lahan perlu dilakukan.





Pemanasan global adalah salah satu isu lingkungan yang saat ini menjadi perhatian serius oleh masyarakat dunia. Beberapa akibat yang timbul dari adanya pemanasan global ini antara lain peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub dan perubahan iklim global. Penyebab terjadinya pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer bumi (Adinugroho, 2006). Gas rumah kaca merupakan gas-gas diatmosfer yang memiliki kemampuan memantulkan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan ke atmosfer oleh permukaan bumi. Beberapa jenis gas rumah kaca yakni karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O). Karbon dioksida dengan persentase lebih dari 50% menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca. Emisi CO2 tersebut berasal dari berbagai aktivitas manusia antara lain penggunaan bahan bakar fosil, alih fungsi lahan, lahan pertanian dan deforestasi (World Watch Institue, 2009).

Besarnya kontribusi senyawa karbon terhadap peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, membuat dunia internasional melakukan berbagai upaya untuk menekan emisi karbon dan dampak yang timbul akibat adanya pemanasan global. Terkait hal tersebut, pada tahun 1997 dihasilkan sebuah kesepakatan yang disebut Protokol Kyoto, kesepakatan ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak pemanasan global. Sebagai tindak lanjut dari Protokol Kyoto, pada Conference on Parties (COP) 13 di Bali disepakati mekanisme Reduce Emission from Degradation and Deforestation (REDD) yang menitikberatkan pada negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dalam hal ini karbon dioksida yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan lahan (Masripatin, 2007). Tindakan di sektor kehutanan dalam rangka mitigasi perubahan iklim dibawah United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)/Protokol Kyoto yang melibatkan negara berkembang sampai saat ini baru terbatas pada Aforestation/Reforestation Clean Development Mechanism (A/R CDM), yaitu peningkatan kapasitas penyerapan/penyimpanan karbon melalui kegiatan tanam menanam.

Hutan memiliki peran yang unik dalam konteks perubahan iklim global. Hutan dapat menjadi penyerap karbon (sink) melalui fotosintesis, kemudian menyimpan cadangan karbon dalam bentuk biomasa berupa akar, batang, dan daun. Sebaliknya hutan juga dapat menjadi sumber emisi (source) yang melepas karbon ketika pohon tersebut mati atau ditebang (Murdiyarso, 2009). Sebagai kawasan yang menyediakan jasa lingkungan untuk menyerap dan menyimpan karbon, keberadaan hutan memiliki fungsi strategis dalam isu pemanasan global. maka keberadaan hutan dan berbagai komponen di dalamnya sepatutnya dijaga untuk kelangsungan aktivitasnya sebagai mesin alam yang berfungsi untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam bentuk biomasa di atas permukaan dan di bawah permukaan tanah.


Sumber Referensi :

Murdiyarso, D., D. Donato, J. B. Kauffman, S. Kurnianto, M. Stidham, M. Kannien. 2009. Carbon storage in mangrove and peatland ecosystems. CIFOR, Bogor.

Masripatin, N. 2007. Apa Itu REDD. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Jakarta.

World Watch Institute. 2009. Climate Change Refrence Guide. World Watch Institute, Washington.


EmoticonEmoticon