Kado Untuk Ibu

KADO UNTUK IBU

By Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf

Di hari ini, seperti sebagian besar orang, pasti sangat berbahagia, karena telah memberikan hadiah-hadiah kepada ibu-ibu mereka. Ibu yang telah mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan mereka sampai sebesar sekarang. Ada juga orang-orang, yang misalnya tidak bisa bertemu langsung dengan ibu mereka karena terpisah laut dan darat, mereka hanya bisa menelpon dan SMSan. Bahkan, ada juga yang hanya bisa melampiaskan rasa kangen kepada ibu mereka lewat status-status di medsos: twitter, bbm atau faceebook misalnya. Dengan menulis status, mereka merasa lega, karena rasa kangen sudah tersalurkan. Walaupun, kadang status-status itu tidak dibaca oleh ibu mereka, karena ibu mereka tak dapat menggunakan HP.


Lain lagi dengan orang-orang yang telah kehilangan ibu. Orang-orang yang ibu mereka telah meninggalkan dunia, untuk menghadap Sang Pencipta. Rasa sedih mengharubiru. Rasa sedih menyelimuti dinginnya malam, saat melihat orang-orang di sekitaran mereka lagi berbahagia. Lagi berbagi kasih dengan ibu-ibu mereka yang masih ada. Tentu, ada sebagian orang akan menjadikan kesedihan itu sebagai do'a-do'a yang akan mereka langitkan. Do'a-do'a yang akan mereka panjatkan dengan air mata. Membaca ayat-ayat untuk ibu, menulis puisi untuk ibu, atau datang ke kubur ibu mereka, walau hanya untuk menyiramkan air mata duka di atas gundukan tanah--yang menjadi tempat peristirahatan ibu mereka--yang paling aman; yang paling damai; yang paling dingin; yang paling sendiri. Ya. Itulah tempat tinggal kita semua kelak. Saya do'akan: semoga ibu teman-teman semua yang telah meninggal, agar dapat dimaafkan segala dosa-dosa oleh-Nya yang Maha Pemaaf. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Hari ini, saya tergolong orang yang masih bisa dikatakan sangat bahagia. Masih bisa merasakan kasih sayang ibu. Masih bisa merasakan hangatnya pelukan ibu di hening malam, lewat do'a yang ia panjatkan kepada anak-anaknya. Do'a yang begitu singkat, tapi penuh dengan kasih sayang. Ya. Saya bisa merasakan itu, walau kita dipisahkan oleh jarak; dipisahkan darat, laut, udara, bahkan angin-angin kecil yang memanggil-manggil hujan di sekitaran pipi kita. Pipimu yang mulai keriput, dan pipi saya yang begitu kenyal. Semoga kau dan semua ibu-ibu yang lain; ibu-ibu yang anak-anak mereka dalam perantauan, sehat selalu, hingga cita-cita bersama dapat tercapai. Lewat cerita ini, saya ingin sekali mengucapkan rasa bangga yang sebesar-besarnya. Bangga yang sangat sulit saya tuliskan menjadi puisi. Bangga yang luar biasa sekali. Ibu, semoga engkau tetap tegar dengan kerentahan umurmu, dan wajahmu yang tua. Hingga kelak, saya bisa memelukmu, mencium mesra kedua keningmu, hingga lelah dan terjatuh di kedua kakimu yang surga. Kedua kakimu--yang menyimpan banyak kedamaian.

Sekali lagi. Di hari ibu ini, belum ada yang bisa saya hadiahkan kepadamu. Ingin sekali menanyakan kabarmu lewat telpon, tapi, kau pasti sudah tahu. Jaringan di kampung sangat kacau. Mudah-mudahan, siapapun dia, yang terpilih nanti jadi Bupati Kabupaten Halmahera Selatan, bisa memperhatikan ini. Semoga.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Saya semakin lupa dan bodoh merangkai kata-kata untukmu. Kata-kata yang bisa menceritakan sedikit kisah tentangmu. Kisah perjuangan dan kesedihanmu--mengandung, melahirkan, merawat, hingga membesarkan semua anak-anakmu--yang tak mau saya lupakan. Terima kasih yang sebesar-besarnya sekali lagi. Semoga sehat selalu.

Akhir kata, do'a terbaik untukmu. Satu hal lagi yang ingin saya katakan, yang ingin saya kirimkan kepadamu sebagai kado di hari ini. Sebagai hadiah bagi semua Ibu dari anak-anaknya. Sebagai kado yang paling beda dari kado semua anak-anak kepada ibu-ibu mereka, bahwa;
"Kata-kata dan puisi-puisi yang belum bisa dan paling aulit saya tulis adalah senyum bahagianmu, Ibu! Salam".

Anakda Muzakir Rahalus di Manado, 22 Desember 2015.

(Baca Juga Karya Muzakir Rahalus : Sedikit Kisah di Pekanbaru)


EmoticonEmoticon