Edisi Curhat Muzakir Rahalus

Oleh           : Muzakir Rahalus

Facebook : https://www.facebook.com/muzakir.rahalus?fref=nf

Foto : Muzakir Rahalus

Kebiasaan saya, kalau sudah 'bosan', atau otak saya sudah sedikit sakit ketika membaca bacaan-bacaan berat, misalnya yang ditulis para pakar atau profesor, kadang saya akan beralih ke bacaan-bacaan ringan. Fiktif dan bacaan yang membawa imajinasi saya untuk tebang jauh. Misalnya: cerpen, novel, puisi-puisi yang menyimpan makna, anekdot; yang membantu saya nyengar-nyegir sendiri.

Selain tulisan, saya juga menyukai gambar atau lukisan-lukisan. Selain memperhatikan keunikan gambar, saya juga belajar membaca pesan apa yang yang disampaikan oleh pelukis tadi.

Untuk fokus membaca, saya tidak punya fokus sama sekali. Saya tidak pernah membedakan, ini tulisan siapa, ini buku siapa, atau ini karya siapa. Di mata saya, semua karya itu sama. Sama-sama punya teknik dan cara untuk menyampaikan pesan-pesan. Karena, menurut saya, dengan membaca banyak tulisan, kita akan banyak mengetahui tipe dan jenis-jenis tulisan--termasuk karakrer si penulis itu--dalam menuang ide-idenya.

Nah, makanya tak jarang juga saya akan membaca tulisan-tulisan dan karya-karya anak-anak di bawah usia saya, mulai dari TK (gambarnya), SD, SMP dan SMA. Karena bagi saya yang baru belajar menulis ini, bacaan-bacaan seperti itu sangat menambah informasi-informasi, untuk kemudian saya tuliskan. Karena anggapan saya, membaca itu seperti menulis dalam bathin. Maksudnya, haru ini kita membaca, efeknya akan datang, atau akan terasa nantinya, karena bathin kita telah menyimpannya.

Terakhir, saya berpesan pada diri saya sendiri yang baru belajar menulis ini, bahwa: kalau ingin menjadi penulis, maka kau harus 'serakah'. Kau harus serakah dalam membaca. Kau harus serakah membaca apa saja.
Salam, dan terima kasih sudah membaca curhat saya sampai selesai.

Wonasa Kapleng-Manado, 20 Desember 2015.


EmoticonEmoticon