Proposal Pemberian Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Bibit Gyrinops caudata (Gilg) Domke

I.                  PENDAHULUAN

I.I   Latar Belakang

            Gyrinops caudata adalah salah satu tanaman penghasil gaharu dari family Thymeleaceae yang tak kalah kualitasnya dibandingkan dengan jenis-jenis lainnya yang ada di Indonesia. Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami/di tanam dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi industri serta dengan dukungan perubahan paradigma dunia pengebotan untuk memanfaatkan tumbuhan alami, kini gaharu dibutuhkan selain sebagai bahan pengikat dalam industri wewangian (parfum) dan kosmetik, juga dibutuhkan dunia sebagai bahan obat yang aman bagi pengguna.

 
            Produksi gaharu semula hanya bersumber dari hutan alam dengan hanya memungut dari pohon mati alami. Saat ini, potensi produksi terus menurun, sedangkan nilai guna gaharu semakin kompleks menjadikan harga jual semakin tinggi. Untuk pemenuhan permintaan pasar, saat ini masyarakat memburu gaharu dengan cara menebang pohon hidup yang mengakibatkan populasi pohon penghasil semakin menurun dan sangat mengancam kelestarian sumber daya alam. Dalam upaya konservasi sumber daya alam, serta upaya membina produksi agar tidak tergantung kepada hutan alam. Solusi alternatif adalah dengan melakukan pembudidayaan jenis-jenis tanaman penghasil gaharu.
Pemupukan pada bibit Gyrinops caudata sangat diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan serta meningkatkan kualitas bibit, salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk daun Gandasil D. Pupuk daun Gandasil D merupakan pupuk anorganik makro dan mikro, berbentuk serbuk dan khusus buat pertumbuhan vegetatif tanaman (Sumekto, 2006). Gandasil D merupakan pupuk daun lengkap dengan kandungan N 14 %, P 12 %, K 14 %, Mg 1 %  dan unsur-unsur hara mikro lainya yang melengkapi yaitu : Mn, Bo, Cu, Co, Zn, serta Aneurine (sejenis hormon tumbuh)(Sutedjo, 2010).
Agar diperoleh hasil yang baik, maka perlu diketahui dosis pupuk  yang  tepat sesuai dengan kebutuhan tanaman. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian pupuk daun terhadap pertumbuhan bibit Gyrinops caudata dengan dosis yang berbeda.

1.2   Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh pupuk daun Gandasil D terhadap pertumbuhan bibit  Gyrinops caudata.

1.3   Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai penggunaan pupuk daun Gandasil D dengan dosis yang tepat untuk pertumbuhan bibit  Gyrinops caudata yang baik.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Taksonomi
Menurut (Gilg) Domke 1932, Gyrinops caudata di klasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Class                : Dicotylodenae
Ordo                : Thymelaeles
Family             : Thymelaeaceae
Genus              : Gyrinops
Species            : Gyrinops caudata (Gilg)

2.2   Morfologi
Jenis tumbuhan penghasil gaharu dari genus Gyrinops memiliki ciri dan sifat morfologis yaitu pohon dengan tinggi batang yang dapat mencapai antara 35-40 m, berdiameter sekitar 60 cm, kulit batang licin, berwarna putih atau keputih-putihan dan berkayu keras. Daun lonjong memanjang dengan ukuran panjang 5-8 cm dan lebar 3-4 cm. Ujung daun runcing, warna daun hijau mengkilap. Bunga berada di ujung ranting atau di ketiak atas dan bawah daun. Buah berada dalam polongan berbentuk bulat telur atau lonjong, berukuran panjang sekitar 5 cm dan lebar 3 cm. Biji berbentuk bulat atau bular telur yang tertutup bulu-bulu halus berwarna kemerahan (Siran, 2007).

2.3   Penyebaran dan Habitat

Penyebaran tumbuhan penghasil gaharu di Indonesia antara lain terdapat di kawasan hutan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Jawa dan untuk Gyrinops caudata penyebaran nya di Papua. Secara ekologis jenis-jenis gaharu di Indonesia tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0 – 2400 m dpl. Umumnya tanaman penghasil gaharu yang memiliki kualitas sangat baik tumbuh pada daerah beriklim panas dengan suhu 28° – 34° C, kelembaban 60% - 80%, dengan curah hujan 1000 – 2000 mm/tahun (Sumarna, 2007).
Tanaman penghasil gaharu dapat tumbuh baik pada kondisi tanah yang beragam. Tumbuhan ini dapat tumbuh baik pada kondisi tanah dengan struktur dan tekstur yang subur, sedang, maupun ekstrem. Tumbuhan ini pun dapat dijumpai pada kawasan hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah, atau hutan pegunungan dengan tekstur tanah berpasir.

2.4   Pemanfaatan

Gaharu mengeluarkan aroma keharuman yang khas, dimanfaatkan untuk bahan baku industri parfum, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis asesoris. Pemanfaatan gaharu masih dalam bentuk produk bahan baku, yaitu bahan kayu bulatan, cacahan, bubuk, atau fosil kayu yang sudah terkubur. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi industri, gaharu pun bukan hanya bermanfaat sebagai bahan industri pengharum, tetapi juga secara klinis dapat dimanfaatkan sebagai obat.
Dari hasil penelitian yang ada, gaharu dikenal mampu mengobati penyakit seperti stres, asma, liver, ginjal, radang lambung, radang usus, rhematik, tumor dan kanker (Anonim, 2003). Beberapa negara seperti Singapura, Cina, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat sudah mengembangkan gaharu tersebut sebagai bahan obat-obatan, seperti penghilang stres, gangguan ginjal, sakit perut, asma, hepatitis, sirosis, pembengkakan liver dan limfa, bahan antibiotika untuk TBC, reumatik, kanker, malairia, serta radang lambung. Di Papua gaharu sudah digunakan secara tradisional oleh masyarakatnya untuk pengobatan. Daun, kulit batang, dan akar digunakan sebagai bahan pengobatan malaria. Sementara air sulingan (limbah dari proses destilasi gaharu untuk menghasilkan minyak atsiri) sangat bermanfaat untuk merawat wajah dan menghaluskan kulit (Sumarna, 2007).

2.5   Media tumbuh

2.5.1   Tanah

Tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair, dan gas yang mempunyai sifat fisik yang dinamik. Benda alami ini terbentuk oleh hasil kerja interaksi antara iklim, jasad hidup terhadap bahan induk yang di pengaruhi oleh tempat terbentuknya. Sebagai sumber daya alam untuk pertanian, tanah mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai matriks tempat akar tumbuh berjangkar dan air tanah tersimpan, dan sebagai sumber unsur hara bagi tanaman (Arsyad, 2010).
Di dalam tanah terdapat komponen-komponen sebagai berikut :
  1     Mineral : Misalnya kalsium, ferum, magnesium
  2.   Zat organik : misalnya karbohidrat, protein dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang mati, yang dapat terurai menjadi bahan-bahan yang diperlukan tumbuhan.
  3.   Air dan zat-zat yang larut di dalamnya.
  4.   Udara misalnya oksigen, karbon dioksida
  5.   Organisme, misalnya cacing, bakteri, yang berperan di dalam proses pembusukan sehingga menghasilkan unsur-unsur yang diperlukan tumbuhan.
Agar tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik maka ke dalam media tanah tersebut diberikan pupuk atau unsur hara yang dibutuhkan tumbuhan tersebut.

2.5.2   Pasir

Pasir cukup memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain, sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya bibt tanaman. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi media tanam.

2.5.3   Pupuk Kandang 

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Penggunaan pupuk kandang memberikan manfaat antara lain :
  1.Dapat menambah tersediaanya bahan makanan (unsur hara ) bagi tanaman yang dapat di serapnya dari dalam tanah.
  2.Pupuk kandang mempunyai pengaruh yang baik terhadap sifat fisis dan kimiawi tanah, mendorong kehidupan jasad renik.
  3.Pupuk kandang mempunyai kemampuan mengubah berbagai faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin kesuburan tanah (Sutedjo, 2010).

2.6   Pupuk

              Pupuk adalah hara tanaman yang ada dalam tanah, atmosfer, dan dalam kotoran hewan secara alami (Sumekto,2006). Namun hara yang ada itu tidak selalu tersedia dalam bentuk siap digunakan tanaman atau jumlahnya tidak mencukupi, jadi harus ditambahkan dengan penggunaan pupuk, untuk membantu sekaligus meningkatkan pertumbuhan tanaman.
              Pupuk dapat digolongkan dalam dua kategori, organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan-bahan mahkluk hidup atau mahkluk hidup yang sudah mati, meliputi kotoran hewan, kompos dan berbagai produk antara dari organisme hidup. Pupuk anorganik adalah pupuk yang berasal dari sumber-sumber yang bukan berasal dari mahkluk hidup dan sebagian besar adalah buatan manusia. Pupuk anorganik dan pupuk organik mengandung unsur-unsur yang sama, tetapi pupuk anorganik memiliki reaksi yang lebih cepat dibandingkan dengan pupuk organik (Sumekto, 2006).



III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1   Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di lab.Silvikultur (rumah kaca) Program Studi Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado dan dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada bulan  November - Desember 2012.

3.2   Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  alat tulis menulis, kamera, gunting, mistar, jangka sorong, sprayer, timbangan analitik, tanah, pasir, pupuk kandang ayam,polibag 20 x 20 cm , pupuk daun gandasil D, dan bibit Gyrinops caudata berumur 3 bulan.

3.3   Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan  rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap ulangan terdiri dari 1 tanaman. Dengan demikian terdapat 20 bibit Gyrinops Caudata dan tambah 10 tanaman sebagai cadangan dan tanaman berumur 3 bulan.
Perlakuan yang diberikan adalah :
1.      Perlakuan A dengan konsentrasi 0 g/l air
2.      Perlakuan B dengan konsentrasi 2 g/liter air (Dosis 0,012 g/tanaman)
8 kali pemberian
3.      Perlakuan C dengan konsentrasi 4 g/liter air (Dosis 0,024 g/tanaman)
8 kali pemberian
4.      Perlakuan D dengan konsentrasi 6 g/liter air (Dosis 0,036 g/tanaman)
8 kali pemberian
Variabel yang diamati :
·         Pertambahan tinggi tanaman
·         Pertambahan diameter batang
·         Pertambahan jumlah daun

3.4   Analisis Data

              Data yang diperoleh dari variabel yang diamati yaitu pertambahan tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun dianalisis menggunakan analisis keragaman (anova) pada taraf nyata 5%, untuk melihat pengaruh dosis tertentu terhadap pertumbuhan bibit Gyrinops caudata. Apabila hasilnya berbeda maka analisis akan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil).

3.5   Prosedur kerja

   1.      Penyiapan media
Dalam penelitian ini menggunakan media tanam yaitu tanah, pasir, dan pupuk kandang (kotoran ayam). Media dicampur dengan perbandingan 1:1:1(berdasarkan volume) kemudian di masukan kedalam polibag ukuran 20 x 20 cm.
  2.      Penyiapan bibit
Bibit yang digunakan berumur 3 bulan
  3.      Pemindahan bibit
Bibit yang pada awalnya berada pada polibag berukuran 10 x 15 cm, di pindahkan ke polibag berukuran 20 x 20 cm yang sudah terdapat media tanam yang telah di campur dan di sterilkan.
  4.      Adaptasi bibit
Sebelum dilakukan perlakuan dengan pupuk daun Gandasil D, bibit di adaptasikan di lab. Silvikultur selama 2 minggu untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuh.
  5.      Pemberian label
Tiap sampel tanaman yang diamati diberikan label sesuai dengan jumlah perlakuan dan ulangan.
  6.      Penempatan bibit
Bibit ditempatkan di lokasi yang sudah  disediakan didalam rumah kaca. Penempatan bibit diacak dengan cara diundi berdasarkan label yang telah diberikan. Jarak antara tanaman di dalam setiap satuan percobaan adalah 50 x 20 cm, penentuan jarak sangat diperlukan agar tiap tanaman tidak terpengaruh oleh penyemprotan pupuk dari tanaman lain.
  7.      Pengambilan data
Pengambilan data awal dilakukan 1 hari sebelum pemberian pupuk daun Gandasil D. Pengambilan data selanjutnya dilakukan seminggu sekali selama 2 bulan dengan 8 kali perlakuan dan pengamatan.
1.      Pengukuran tinggi
Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah sampai pada ujung daun terakhir (kuncup)
2.      Pengukuran diameter
Diameter tanaman diukur 3 cm dari permukaan tanah.
3.      Jumla daun
Jumlah daun dihitung dari daun pertama yang berada didekat pangkal hingga duduk daun terakhir (daun sempurna). Kuncup daun muda tidak termasuk dalam hitungan.
  8.      Pemberian pupuk daun Gandasil D
Pemberian pupuk daun dilakukan pada pagi hari jam 7.00-9.00. Pupuk disemprotkan pada permukaan daun bagian atas sebanyak 3 ml air dan permukaan daun bagian bawah sebanyak 3 ml air. Pemberian pupuk daun dilakukan seminggu sekali dengan interval waktu yang sama, selama dua bulan. 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2003. Gaharu Sembuhkan Banyak Penyakit. http :/ www.sinarharapan.co

Id/berita/0703/16ipt04.html.(Akses 10 September 2012)



Arsyad, S.2010.Konservasi Tanah dan Air. IPB Press . Bogor.



Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo.2008.Budidaya Gaharu. Depertemen Kehutanan . Yogyakarta.



Daha, L .2011. Rancangan Percobaan Untuk Bidang Biologi dan Pertanian. Masagena Press . Makassar.



Lakitan, B. 1996. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo Persada . Jakarta.



Mulyani, S. 2006. Anatomi Tumbuhan. Kanisius . Jakarta.



Mulyaningsih, T., Isamu, Y. 2007. Notes on Some Species of Agarwood in NusaTenggara,             CelebesandWestPapua.http://sulawesi.cseas.kyotou.ac.jp/final_reports2007/article/43-tri.pdf. (Akses 10 September 2012)



Murbandono.2000. Manfaat Bahan Organik Bagi Tanaman. Puslit Biologi, LIPI, Bogor.



Rosmarkam, A dan Nasih W.Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.



Sahroni, Wahyuni S & Okta D.2010. Analisis Pengaruh Pemupukan Terhadap Tingkat Kesintesan dan Pertumbuhan Bibit Gaharu (Aquilaria microcarpa Baill). Buletin Kebun Raya Bogor, 13(1) : 1-16



Siran, S dan Juliaty, N. 2007. Gaharu Komoditi Masa Depan yang Menjanjikan. Balai Litbang Kehutanan . Kalimantan.

Sitompul S, Guritno B. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadja Mada University Press . Yogyakarta.

Sumekto, R.2006. Pupuk Daun. Citra Aji Parama . Yogyakarta.



Sumarna, Y. 2007. Budidaya Gaharu. Seri Agribisnis. Penebar Swadaya. Jakarta.



Sumarna, Y. 2009. Gaharu Budidaya dan Rekayasa Produksi. Penebar Swadaya. Jakarta.


EmoticonEmoticon