Memahami Kearifan Lokal

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat Pagi...

Hari ini Penulis ini akan mencoba untuk membahas tentang Kearifan Lokal dimana menurut penulis Kearifan Lokal ini juga memilki peranan penting dalam hubungan manusia dan alam. Baik langsung saja tanpa panjang lebar hehe...

Kearifan lokal terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah Ide dan gagasan atau pengetahuan yang lahir dari masyarakat setempat dalam menjalankan kehidupan di lingkungan sekitar.

 Sumber gambar : www.elinksolution.net

Kearifan Lokal sendiri sudah ada sejak zaman dahulu di lingkungan masyarakat lokal sebelum berkembangnya teknologi seperti sekarang ini. Misalnya pada suku Baduy yang lebih mengutamakan sistem tertutup, artinya aktivitas ekonomi dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan diproduksi serta dikonsumsi dilingkungan Baduy sendiri. Mata pencaharian mereka pada umumnya adalah bertani atau bercocok tanam. Seluruh masyarakat di Baduy belajar untuk bekerja di pertanian sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Di Baduy terdapat aturan dalam pertanian yang diikuti oleh masyarakatnya. Ada waktu dimana mereka harus mengolah tanah, menanam, maupun memanen hasil pertaniannya. Sistem pertanian disana adalah dengan sistem berladang dan berkebun. Pada masa dimana mereka tidak sedang bekerja di ladang, Baduy laki-laki bekerja di hutan untuk berburu dan memanen madu, sementara Baduy wanita bekerja menenun dirumah untuk membuat baju, selendang, sarung, serta kerajinan tangan seperti tas.

Menurut Antariksa (2009), kearifan lokal merupakan unsur bagian dari tradisi-budaya masyarakat suatu bangsa, yang muncul menjadi bagian-bagian yang ditempatkan pada tatanan fisik bangunan (arsitektur) dan kawasan (perkotaan) dalam geografi kenusantaraan sebuah bangsa.

Berangkat dari semua itu, kearifan lokal adalah persoalan identitas. Sebagai sistem pengetahuan lokal, ia membedakan suatu masyarakat lokal dengan masyarakat lokal yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari tipe-tipe kearifan lokal yang dapat ditelusuri Kearifan lokal dalam hubungan dengan makanan: khusus berhubungan dengan lingkungan setempat, dicocokkan dengan iklim dan bahan makanan pokok setempat. (Contoh: Sasi laut di Maluku dan beberapa tempat lain sebagai bagian dari kearifan lokal dengan tujuan agar sumber pangan masyarakat dapat tetap terjaga).Kearifan lokal dalam hubungan dengan pengobatan: untuk pencegahan dan pengobatan. (Contoh: Masing-masing daerah memiliki tanaman obat tradisional dengan khasiat yang berbeda-beda).

Kearifan lokal dalam hubungan dengan sistem produksi: Tentu saja berkaitan dengan sistem produksi lokal yang tradisional, sebagai bagian upaya pemenuhan kebutuhan dan manajemen tenaga kerja. (Contoh: Subak di Bali; di Maluku ada Masohi untuk membuka lahan pertanian, dll.).

Kearifan lokal dalam hubungan dengan perumahan: disesuaikan dengan iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah tersebut (Contoh: Rumah orang Eskimo; Rumah yang terbuat dari gaba-gaba di Ambon, dll.).

Kearifan lokal dalam hubungan dengan pakaian: disesuaikan dengan iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah itu.

Kearifan lokal dalam hubungan sesama manusia: sistem pengetahuan lokal sebagai hasil interaksi terus menerus yang terbangun karena kebutuhan-kebutuhan di atas. (Contoh: Hubungan Pela di Maluku juga berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan pangan, perumahan, sistem produksi dan lain sebagainya).

Kearifan lokal di Maluku Utara yang bergotong- royong dalam segala hal, misalnya pembangunan rumah warga masyarakat dalam sebuah Desa maka sesama warga akan saling membantu.

Banyak sekali kearifan lokal yang tanpa disadari tetap memberikan nilai positif dan kearifan lokal sendiri tetap bermanfaat dari setiap pergantian zaman. Misalnya di daerah asal penulis tepat di Kota Sanana, Maluku Utara pada saat pergantian musim kemarau ke musim hujan biasanya terdapat serangga tertentu yang akan muncul dengan jumlah yang banyak dan hal itu sebagai sumber pengetahuan bahwa akan terjadi hujan, dan itulah pengetahuan lokal yang sampai sekarang masih digunakan meskipun teknologi semakin berkembang. Hal itu yang membuktikan bahwa Kearifan Lokal tetap eksis sampai sekarang.

Kearifan lokal seperti ini menurut penulis harus kembali dibudayakan dan dikembangkan dalam menyikapi realitas alam sekarang yaitu pemanasan global yang menjadi wacana Internasional, seperti yang kita ketahui dampak dari pemanasan global salah satunya adalah terjadinya perubahan cuaca yang tidak teratur ( Anomali ).


EmoticonEmoticon