Hujan dan Surat Kepada Tenaga Pengumpul Data (TPD)

Oleh        : Tri Saleh 
Facebook : https://www.facebook.com/tri.saleh1?fref=ts

Para petarung Tenaga Pengumpul Data (TPD), Surveyor Populi Center yang terhormat. Dimanapun kita berada, maka pasti saya mengetahui bersama jejak kita. Kenapa...? Karena kita semua ada pada tusuk hujan yang menyelimuti bumi nyiur melambai. Hehehe..., jangan...? Maksud saya jangan berteduh karena tubuh kita memang sudah digodok para panglima semesta untuk tidak menjerit. Buang manja-manja itu dan biarkan hujan tetap menuntun perjuangan kita hari ini dan sampai besok. 

Skenario Tuhan telah mengatur dunia kita. Itu sebutan kata yang wajar akan makna. Bisa...! Mungkin bisa kita bertanya dan mengira-mengira kenapa hujan turun disaat bersamaan waktu dan tugas kita yang juga belum usai. Jangan keluh, ku kirimkan surat ini bersama hujan yang mengepung kita. 

 
Sumber Gambar : blog.stie-mce.ac.id 

Dengar wahai para pemburu data, berjalanlah tanpa batas dan temuilah warga yang terdata pada kertas putih yang bertintahkan hitam. Disitu adalah hasil yang bisa menentukan apakah kita sebagai Tenaga Pengumpul Data (TPD) mampu menembus serta menabrak tembok keniscayaan dunia yang telah melemahkan langkah kita pada jejak aspal. Entah...? dengan air yang meneteskan tangisan langit di sore ini. Teriaklah...! sekali lagi teriaklah. Teriak kepada dunia bahwa janganpun air hujan yang engkau tuangkan pada manusia, sekalipun kiamat maka umat-Mu siap sedia berjuang tanpa ada kata “ KALAH ” dan juga kata “ PASRAH “. Ayo...! Bergegas dan bergerak tunjukanlah bahwa kita BISA...!

Bisa bukan berarti kata yang melecehkan hukum Tuhan pada agama kita. Tetapi jejak yang mapan untuk menerobos jurang-jurang kemanjaan sehingga  kitapun manusia tidak ada terkesan laknat dan durhaka pada pencipta karena menentang kemanjaan dengan semangat sambil melontarkan kata 'KIAMAT'. Itu bukan maksud seutuhnya perbantahan tentang Tuhan. Sekali dan lagi ku ucapkan, semangat dan terobos lelahmu. Tuhan mu bukan satu-satunya alasan “KIAMAT” melainkan karena Berjuang, Maju, dan Semangat. Mari hening, ajakanku mengundang itu. Itu yang ku maksud...? Adalah bukan sabdah tetapi para tabiat kehidupan manusia, bagi yang sering memainkan irama tubuh yang melekat manja, tidaklah pantas. 

Entah siapa...? dan juga tak pulah ku sebut siapa-siapa. Namun yang merasa penuh “ Manja ” itulah manusia tegar yang pantas disebut doyan makan dan tak berfikir bagaimana berjuang mencari makan untuk melembungkan isi perutnya. Perut yang di hias penuh kemanjaan tanpa mengerti perjuangan. Itulah hening...! agar  kita tetap “ SEMANGAT “ dan tidak menjadi “ MANJA ". Majuuu...! Lov'U Seemuuuaaacch...Mmuuaaacch...Mmuuaaach. (Baca Juga Tulisan Tri Saleh : Nietzsche dan Profesi Sabotase Parah Tuan-Tuan)


EmoticonEmoticon