Analisis Vegetasi



Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut.

1. jumlah petak contoh,
     2. cara peletakan petak contoh, dan
     3. teknik analisis vegetasi yang digunakan.

Prinsip penentuan ukuran petak:

1.  petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas,
2.  petak harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung, dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian.

Penentuan luas petak contoh yang  mewakili suatu komunitas dapat dilakukan melalui teknik Kurva Spesies Area (KSA).Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan:

1. luas mi nimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur,
2. jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur.

Caranya adalah dengan mendaftarkan jenis-jenis yang terdapat pada petak kecil, kemudian petak tersebut diperbesar dua kali dan jenis-jenis yang ditemukan kembali didaftarkan.

Pekerjaan berhenti sampai ketika penambahan luas petak tidak menyebabkan penambahan yang berarti pada banyaknya jenis.
Luas minimun ini ditetapkan dengan dasar jika penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 5-10% (Oosting, 1958; Cain & Castro, 1959).

Untuk luas petak awal tergantung surveyor, bisa menggunakan luas 1mx1m atau 2mx2m atau 20mx20m, karena yang penting adalah konsistensi luas petak berikutnya yang merupakan dua kali luas petak awal dan kemampuan pengerjaannya di lapangan.

Dari hasil di atas dapat ditetapkan bahwa luas petak ukur yang dapat mewakili komunitas pada rumput tersebut adalah adalah 8m x 16m atau 0.128 ha.
Luasan ini bukanlah harga mutlak bahwa luas petak ukur yang harus kita gunakan adalah 0.128 ha, tapi nilai tersebut adalah nilai minimum, artinya kita bisa menambah ukuran petak contoh atau bahkan memodifikasinya karena yang harus kita perhatikan bahwa petak contohnya tidak kurang dari hasil KSA.

Contoh untuk memudahkan pekerjaan di lapangan, sebaiknya ukuran petak tersebut berbentuk bujur sangkar, sehingga petak hasil KSA tersebut dapat diubah menjadi ukuran 12m x12m (0,0144 ha).

Jika sudah dapat ditentukan luas petak m inimum, maka tentukan pula jumlah petak contoh keseluruhan. Contoh: luas kawasan yang akan kita eksplorasi adalah 10 ha, ukuran petak contoh yang ditentukan 12m x 12m dan kita menginginkan intensitas sampling (IS) 5%

artinya, kita hanya akan mengukur 5% dari luas total 10 ha.
Maka jumlah petak contoh yang harus kita gunakan  adalah sbb.

       LUAS AREA = 10 HA
       IS = 5% = 5% X 10 HA = 0,5 HA
       LPC = 12M X 12M = 144 M2 = 0,0144 HA
       JPC = 0,5 HA / 0,0144 HA = 34,72

cara peletakan petak contoh:

1.  cara acak (random sampling) dan
2.  cara sistematik (systematic sampling),

   random samping hanya mungkin digunakan jika vegetasi homogen, misalnya hutan tanaman atau padang rumput (artinya, kita bebas menempatkan petak contoh dimana saja, karena peluang menemukan jenis bebeda tiap petak contoh relatif kecil). 

   sedangkan untuk penelitian dianjurkan untuk menggunakan systematic sampling, karena lebih mudah dalam pelaksanaannya dan data yang dihasilkan lebih bersifat representative. bahkan dalam keadaan tertentu, dapat digunakan purposive sampling.

   komponen penyusun vegetasi adalah fokus dalam pengukuran vegetasi. komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri atas: 

1.  belukar (shrub): tumbuhan berkayu yang banyak bertangkai serta subtangkai. 
2.  epifit (epiphyte): tumbuhan yang hidup di permukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3.  paku-pakuan (fern): tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dan pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4.  palma (palm) : tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5.  pemanjat (climber) : tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6.  terna (herb) : tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7.  Pohon (tree) : tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.

permudaan pohon terdiri atas:

a. Semai (seedling): permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (sapling): permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c.  Tiang (poles): pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
d. Pohon (Wood): pohon berdiameter lebih dari 20 cm 

adapun parameter vegetasi yang diukur di lapangan secara langsung adalah:

1. nama jenis (lokal atau botanis)
2. jumlah individu setiap jenis untuk menghitung kerapatan
3. penutupan tajuk untuk mengetahui persentase penutupan vegetasi terhadap lahan
4. diameter batang untuk mengetahui luas bidang dasar dan berguna untuk menghitung volume pohon.
5. tinggi pohon, baik tinggi total (tt) maupun tinggi bebas cabang (tbc), penting untuk mengetahui stratifikasi dan bersama diameter batang dapat diketahui ditaksir ukuran volume pohon.

INDEX NILAI PENTING:

Menetapkam dominansi suatu jenis thd jenis lainnya  - menggambarkan kedudukan/status ekologis suatu jenis dalam komunitaMerupakan penjumlahan KR+FR+DR 

Pelaksanaan di Lapangan

Pelaksanaan dilapangan dapat menggunakan Sistematis Sampling atau Random Sampling tergantung keadaan lapangan. Biasanya Sistematis Sampling dipakai pada metode transek atau garis yaitu petak mengikuti garis lurus dengan konsisten teradap jarak tiap petak sedangkan apabila menggunakan Random Sampling biasanya petak berada dalam posisi acak namun tetap konsisten dengan jarak tiap petak yang sama.

Pelaksanaan biasanya dilakukan dengan survey awal lokasi atau berdasarkan informasi yang diperoleh. Setelah dilakukan survey lokasi selanjutnya dilakukan pembuatan plot ukur dan kemudian dilakukan pengumpulan lewat pengamatan jenis pohon. Pengukuran di lokasi dilakukan sepanjang yang diinginkan dilapangan.

Pengumpulan data di lokasi menggunakan metode acak atau sistematis sampling dengan ukuran  2x2 , 5x5 , 10x10 dan 20x20 atau 20 m x 50 m utuk mengkaver semua ukuran dibawahnya.

Bahan dan Alat :

1. Tali sheet
2. Tali Nilon
3. Alat Tulis
4. Meter Roll
5. Pisau
6. Kompas dan 
7. Buku Jenis Tunbuhan atau Kunci Identifikasi

Alat dan bahan di atas hanyalah sebagian yang pada umumnya harus di bawa ke lapang namun apabila ada tambahan alat dan bahan yang teman-teman akan menambahkan, silahkan saja. Intinya di sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Mengingat tiap lokasi dalam melakukan melakukan Ananlisis vegetasi berbeda-berda tipografinya atau keadaan alam.

Rumus yang sering digunakan dalam Analisis Vegetasi dalam perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) :  (Jangan Lupa Baca Juga : Pengertian Analisis Vegetasi Menurut Ahli)




EmoticonEmoticon