Renungkan Diri Sejenak

Benturan-benturan  kecil permasalahan yang terjadi didalam  realitas kehidupan tanpa di sadari kadang bisa menjadi sesuatu kumpulan kekuatan penghancur yang dahsyat, yang akan dapat menghancurkan karakter-karakter yang telah terbentuk dalam  proses pembaruan yang bersifat dinamis apabila kita belum  menyadari fenomena itu dan segera membendungnya dengan sentuhan-sentuhan keimanan, kesabaran dan keikhlsan. Kesadaran dan penyesalan Manusia akan muncul dengan sendirinya ketika kita telah terporosok di lembah kehancuran , yang sangat ironis adalah bila kita menyerah, pasrah dengan keadaan labil yang dialami. Di saat memperoleh kejayaan dan kesenangan kita sering lupa dengan hakekat eksistensi kita dialam ini dan berbuat sesuka hati demi terpenuhinya hawa nafsu atau kenikmatan-kenikmatan yang bersifat sementara dan akibat timbal baliknya terbeban berlangsung lama.


Perjalanan mengarungi samudera kehidupan dan bertarung dengan kerasnya badai dan gelombang kadang membuat kita lelah dan putus asa akibat dari probelamatika yang selalu hadir dalam mengiri dimanapun kita beradah. Namun kita harus menyadari bahwa  inilah hidup dan kehidupan yang normal sebagai manusia.

Desakan urgensi kadang membuat kita memhalalkan segala cara tanpa meneropong dampak yang akan hadir di sela-sela kesenangan demi tercapainya apa yang kita inginkan, namun lambat laun kesenagan itu akan hilang ditelan waktu tanpa disadari sebab tidak dapat bertahan di arena kemunafikan tiap-tiap insan. Hiduplah dengan apa adanya, sukuri apa yang ada, perbanyaklah bersukur dari pada mengeluh dan janganlah pernah menimbun pikiran negatif dalam wadah pikiran kita karena itu hanya akan membuat terhambatnya peningkatan kualitas kecerdasan kita baik intelektual, emosional lebih khususnya lagi spiritual. Kadang kita merasa menjadi yang paling cerdas, yang paling diperhatikan, yang paling dikagumi, yang paling cepat beradaptasi di lingkungan dan sistem sosial masyarakat atau kelompok-kelompk yang baru, namun ternyata pemikiran-pemikiran seperti itu hanya akan menjadi bomerang bagi kita karena dibalik tirai sanjungan, pujian, dan tawa dari orang-orang sekitar ternyata ada niat-niat atau rencana pengancuran yang tidak nampak oleh logika namun akan Nampak perlahan-lahan.

Besarnya persaingan saat ini membuat sebagian besar Manusia yang mengadopsi paham Hedonisme yaitu paham di mana mengagungkan kenikmatan. Semua kebutuhan baik primer maupun sekunder bukan hanya di anggap sebagai kebutuhan tapi sudah menjelma menjadi keinginan yang tiada batas. Semua yang ada di alam di eksploitasi sebesar-besarnya tanpa dibalas dengan tindakan reklamsi (pengembalian) dan rehabilitasi (pemulihan) akibatnya alam menjadi sangar dan siap mengamuk dengan kekuatan-kekuatan yang tanpa disadari diciptakan oleh Manusia itu sendiri. Bencana alam di daerah-daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah bukti konkrit dari keganasan alam.

Tingkat keimanan manusia bersifat dinamis, kadang kadarnya keimananya tinggi,kadang menengah, dan kadang dibawah batas kewajaran, yang ditakutkan adalah hilang dari diri kita. Itulah mengapa manusia sulit di pahami khususnya manusia-manusia dalam proses pencarian kedamaian jiwa.

Untuk itu, marilah kita bersama-sama luangkan waktu sejenak di antara kesibukan-kesibukan untuk tenangkan pikiran, jiwa dan lemaskan otot-otot yang kaku untuk berpikir lebih mendalam, apakah segala sesuatu yang kita perbuat selama ini sudah benar dan berguna untuk diri kita dan orang lain,,???, apakah kegiatan yang kita lakukan sehari-hari tidak menyinggung atau membuat orang lain merasa terganggu,,,??? Apakah sifat dan tingkah laku kita pada teman, keluarga, saudara sudah membuat mereka merasa nyaman,,??? Semua hanya pribadi dari kita yang bisa menjawab dan merubah semuanya.(Baca Juga Artikel Menarik : Cerita Kopi Hitam Ku )


EmoticonEmoticon