Biarkan Rasa ini Jenuh

Bumi memandang kita dengan penuh makna, cerita sang ibu masih menggiur di telinga, hari membuka tabir penghalang antara waktu dimana sang fulan masih menceritakan aroma perasaan. Rasa tak kunjung hilang walau di terpa suatu kepastian yang hilang. Cinta, kata yang lahir dari penciptaan lewat dia manusia pertama, cinta, rasa yang ada dalam jiwa kefitraan makhluk bernapas, cinta, warna yang tak akan habis hingga bumi menyerah. Rasa cemburu yang terurai dalam jalan ke puncak kebahagian, hukum proyeksi pun mulai berperan dikala nalar mulai memecah kenyataan. Sang Khalik menyayangi dengan kebijaksanaanNYA meski hati kadang terselip udara hangat yang mengetarkan rasa, menciumi nafas kekhawatiran akan nasib dan takdir. 


Jenuh, ibarat air dalam bejana yang menetes keliang tanah. Jenuh ibarat hujan yang melepaskan bongkahan tanah dari si induk. Jenuh ibarat Tuhan mencintai kita dalam segala kecintaanNYA. Jenuh menjadi ujian makna kehidupan dalam siratan kertas putih yang ternodai oleh prasangka dangkal. Biarkanlah kejenuhan ini melanda hingga kejenuhan pun menjadi jenuh dalam kejenuhanya sendiri sebab kejenuhan pun sudah tersistematis oleh Sang Ilahi yang sengaja di selimuti jiwa agar keharmonisan kembali terajut lewat doa dan syukur. Jenuh, hasrat menusiawi yang kadang manusia pun tidak menyadari akan kemanusiaanya, beribu tafsiran pun lahir bagai sang guru yang berada setiap sudut ilmu pengetahuan, bagai raja yang tak terkalahkan oleh waktu yang membisu dan berbisik merdu.

Jiwa dan raga beradu dalam kesan hingga akal sebagai nahkoda yang membawa beragam rasa dalam singasana asmara, rumah cinta menjadi kumpulan beragam rasa yang berubah menjadi makna dalam mengawal raga dan jiwa sambil berjalan menelusuri lorong kehidupan. Detik takan kembali, menit takan berpaling dan jam takan menangis dan hanya memandang dalam diam sambil berdoa manakala mereka bisa kembali demi kebahagiaan yang lain.

Kejenuhan adalah sesuatu kondisi yang manusiawi dimana beragam hasrat (keiginan) kadang berbanding terbalik dengan apa  yang diharapkan. Sabar ada batasnya, hal itu bertolak dari kejenuhan tadi, namun Tuhan memberikan cobaan kepada kita untuk melatih sampai sejauh mana batas kesabaran kita sebab untuk meraih apa yang kita inginkan butuh kesiapan fisik dan mental atau pendewasaan diri. Contoh misalnya seseorang mengharapkan jodoh atau pendamping hidup yang baik menurutnya, sementara dia sendiri belum melakukan hal-hal yang baik, singkatnya Tuhan akan memberikan kita jodoh yang baik jika kita telah siap untuk menerima jodoh tersebut dengan menjadi pribadi yang baik. Mengingat sebuah kata bijak wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik pula begitu juga sebaliknya. Misalnya seseorang yang menginginkan menjadi kaya raya maka dia harus bekerja keras dan memanajemen dengan baik menyangkut proses finansialnya dan disitu dibutuhkan kesabaran dalam mengumpul pundi-pundi rupiah.

Hidup perlu dimaknai dengan berbagai cara selama itu yang terbaik buat kita, keluarga kita dan orang-orang disekitar kita dimanapun kita berada. Menurut saya memaknai hidup dan kehidupan dapat dilakukan dalam 3 hal pokok yaitu Adaptasi, syukuri dan nikmati dengan begitu dalam kondisi apapun kita tetap dapat memaknai hidup dan kehidupan yang lebih baik
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat kita semua, khususnya penulis sendiri lebih dan kurangnya mohon di maafkan, kesempurnaan hanya milik Tuhan dan kekurangan milik kita sebagai ciptaanNYA. (Baca Juga Artikel Menarik : Intelektual dan Ilmu Pengetahuan)


EmoticonEmoticon