Konsep Tegakan dan Hutan

Berikut ini akan dikemukakan beberapa konsep dasar yang terkait dengan tegakan dan hutan:

    1. Tegakan (Stand

    adalah kesatuan pohon-pohon atau tumbuhan lain yang menempati suatu areal tertentu dan yang memiliki komposisi jenis (species), umur, dan kondisi yang cukup seragam untuk dapat dibedakan dari hutan atau kelompok tumbuhan lain di sebelah atau sekitar areal tersebut. Tegakan merupakan unit dasar suatu perlakuan silvikultur.

    2.  Tegakan seumur (even-aged stand

    adalah tegakan yang terdiri atas pohon-pohon yang berumur sama atau paling tidak berada dalam kelas umur yang sama. Smith (1962) menyebutkan bahwa suatu tegakan dianggap seumur kalau perbedaan umur antara pohon-pohon yang paling tua dan yang paling muda tidak melebihi 20% panjang daur (rotasi).  Sebenarnya dalam hutan yang dipermudakan secara alamsukar sekali dijumpai tegakan yang terdiri dari pohon-pohon yang berumur sama.  Oleh karena itu mungkin lebih tepat kalau kita katakana bahwa tegakanseumur adalah tegakan yang terdiri dari pohon-pohon dengan perbedaan umur antara pohon yang paling muda dan yang paling tua yang diperbolehkan adalah 10 sampai 20 tahun.  Namun demikian, apabila tegakan tersebut tidak akan ditebang sebelum berumur 100 – 200 tahun, maka perbedaan umur yang diperbolehkan mencapai 25% dari umur daur atau rotasi.

    3.  Tegakan tidak Seumur (uneven-aged stand

    adalah tegakan yang terdiri dari pohon-pohon dengan perbedaan umur antara pohon yang paling tua dengan pohon yang paling muda paling sedikit sebesar tiga kelas umur.  Jadi dalam tegakan tidak seumur terdapat paling sedikit tiga kelas umur.
    4.  Kelas umur (age class

     adalah salah satu dari rangkaian selang (interval) waktu yang menyusun rentangan umur (life span) pohon hutan.  Jadi rentangan umur pohon hutan dibagi ke dalam beberapa selang waktu.  Di Indonesia, biasanya panjang selang waktu tanaman hutan adalah 5 atau 10 tahun. Untuk jenis pohon yang rumbuh cepat panjang selang waktu hanya 1 tahun.  Biasanya tiap jenis pohon ditetapkan panjang selang waktui yang sama. Untuk Albizia falcataria panjang selang waktu ditetapkan 1 tahun, Pinus merkusii 5 tahun, Tectona grandis yang tumbuh lebih lama 10 tahun.

    5.  Hutan Seumur (Even-aged Forest) 

    adalah hutan yang terdiri atas tegakan-tegakan seumur, meskipun perbedaan umur yang sangat besar (lebih dari ¼ rotasi) antara pohon-pohon dalam suatu tegakan dengan pohon-pohon dalam tegakan lainnya.  Contoh: Suatu hutan terdiri dari 4 tegakan yaitu A, B, C, dan D. Tiap tegakan tersebutadalah tegakan seumur. Kemudian kita perhatikan bahwa padategakan A terdapat pohopohon yang berumur 60 tahun dan pada tegakan C terdapat pohon-pohon yang berumur 10 tahun. Kalau diketahui pula bahwa hutantersebut mempunyairotasi 80 tahun, apakah hutantersebut masihdapat dikatakan hutan seumur?  Jawabannya adalah benar hutan tersebut adalah hutan seumur. Hal ini disebabkan karena tiap tegakan dalam hutan tersebut adalah tegakan seumur, meskipun perbedan umur antara pohon dalam suatu tegakan dengan pohon dalam tegakan yang lain melebihi ¼ rotasi.

    6.  Hutan Tidak Seumur (uneven-aged forest

    adalah hutan yang terdiri dari tegakan-tegakan tidak seumur.  Contoh: Suatu hutan terdiri dari tegakan-tegakan A, B, C, dan D. Hutan tersebut dapat dikatakan tidak seumur kalau tegakan A tidak seumur, tegakan B tidak seumur, tegakan C tidak seumur, dan tegakan D tidak seumur.

    7.   Dinamika Tegakan.  

    Dinamika suatu tegakan didasarkan atas prinsip-prinsip ekologi yang telah memberikan sumbangan kepada sifat dasar dari tegakan tersebut, seperti suksesi, kompetisi, toleransi,dan konsep zona optimum. Faktor-faktor inilah yang secara lansung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari tegakan yang dibangun. Pertumbuhan tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi, diameter, dan volume dari tegakan yang telah dibangun. Faktor-faktor tersebut selanjutnya akan mempengaruhi apakah tegakan itu tegakan seumur atau tegakan tidak seumur.  Tegakan seumur dan tegakan tidak seumur inilah yang menentukan sistem silvikultur yang akan dibangun.  Berikut ini, diuraikan secara singkat tentang prinsip-prinsip ekologi yang telah memberikan sumbangan kepada sifat dasar dari tegakan, yaitu:

a.  Suksesi Hutan

Suksesi tumbuhan adalah pergantian suatu komunitas tanaman pada suatu areal oleh komunitas tanaman lain. Suksesi primer mulai dari permukaan bumi yang tidak ditumbuhi tanaman, kemudian terjadi perkembangan pergantian ke arah yang lebih maju, dan akhirnya mencapai tahap ekspresi ekologi yang paling tinggi yang disebut klimaks. Apabila perjalanan suksesi tadi mundur akibat adanya ganguan seperti api, penebangan oleh peladang berpindah, maka penyembuhan ke arah tahap sebelum datangnya gangguan disebut suksesi sekunder. Suksesi primer terjadi karena adanya pergantian sekelompok spesies oleh yang lainnya yang disebabkan oleh perkembangan dalam ekosistem itu sendiri, sedangkan suksesi sekunder terjadi karena pengaruh kekuatan luar yang meruah ekosistem seperti pengrusakan hutan, dan lain-lain. 

Rimbawan pada umumnya mengelola tegakan yang sedang berada dalam perkembangan suksesi sekunder. Malahan banyak spesies pohon-pohon membentuk komponen-komponen tahap perkembanmgan di bawah klimaks, danseringkali usaha utama rimbawan adalah menghalangi tendensi dari suatu komunitas maju ke arah spesies-spesies pembentuk klimaks. Setiap wilayah hutan memiliki ciri-ciri komunitas pohon-pohonan tertentu, dan rimbawan menggunakan praktek-praktek silvikultur untuk mempertahankan suatu tahap perkembangan dalam rentetan perjalanan suksesi sehingga tujuan pengelolaan hutandapat dipenuhi.

b.  Kompetisi

Kompetisi adalah suatu proses yang bergerak maju karena setiap spesies memiliki kemampuan yangberbeda dalam suatu lingkungan tertentu, dan spesies yang kurang mampu mengadakan penyesuaian akan hilang dari persaingan.  Agar sukses dalam persaingan, suatu spesies harus memiliki sumber biji yang cukup, tempat perkecambahan biji yang cocok, keadaan pertumbuhan yang cukup, dan tidak memiliki kelemahan utama dalam terhadap serangan penyakit, hama, dan binatang yangdapat merintangi kelansungan hidupnya.  Dalam proses kompetisi ini, suatu spesies dapat menempatkan dirinya sebagai spesies yang dominan dan bahkan suatu spesies dapat menggantikan spesies lainya sehingga terdapat suatu proses saling ganti mengganti antarberbagai spesies.

c.  Toleransi

Suksesi bergerak maju karena spesies yang menyerang lebih mampu bersaing dalam lingkungan yang sedang berubah.  Toleransi dalam kehutanan diartikan sebagai kapasitas relatif suatu pohon untuk bersaing dalam keadaan cahaya yang rendah dan persaingan akar yang tinggi.  Pohon-pohon yang toleran memperbanyak diri dan membentuk lapisan tanah bawah tajuk dari pohon-pohon yang kurang toleran dan bahkan di bawah naungannya sendiri.  Pohon-pohon yang tidak toleran memperbanyak diri dengan sukses hanya pada daerah-daerah terbuka dimana terdapat tajuk yang terbuka lebar.  Tentunya terdapat spesies yang sangat toleran, toleran, tingkat menengah, tidak toleran, dan sangat tidak toleran.  Pengetahunamengenai toleransi dan implikasinya terhadap persaingan dan pertumbuhan adalah suatu hal yang mendasar untuk memperoleh sistim silvikultur yang baik dan mendasar pula bagi setiap keputusan kita dalam pengelolan hutan.

d.  Zone Optimum

Zone optimum adalah tempat dimana suatu spesies tertentu sering dijumpai pada berbagai macam tanah dan tempat tumbuh (site). Pada tempat tumbuh yang paling baik, spesies tersebut mencapai ukuran, umur, dan berbagai sifat baik yang maksimum. Ukuran, umur, dan sifat-sifat baik tersebut menurun pada zone-zone yang lebih dingin atau lebih panas. Pada zone optimum tersebut spesies yangbersangkutan paling mudah memperbanyak diri. Suatu spesies yang toleran kemungkinan besar akan membentuk suatu klimaks pada zone optimumnya. (Baca Juga Artikel Menarik : Konsep Rotasi)


EmoticonEmoticon